Pasar Buku Cetak Tetap Eksis Ditengah Serbuan E-Book 

  • Whatsapp
Keterangan Foto: Buku cetak di Perpustakaan masih banyak diminati.

Jakarta, beritalimacom | Di era digital saat kini, kehadiran electrinic book atau E-Book kian marak. Namun, kehadirannya, tak serta Merta menggantikan peran buku cetak.

“Keduanya saling melengkapi,” ujar Bagus M. Adam, penanggungjawab dalam produksi dan penjualan eBook di Penerbit Gramedia, saat bicara dalam diskusi Hati Pena, diadakan Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena di Jakarta (9/5).

Dalam diskusi itu, Adam didampingi pengurus Satupena, Jonminofri Nazir, yang mengelola program eBook Satupena. Satupena belum lama ini juga Sosialisasi Kios Satupena di Gramedia Digital.

Adam mengungkapkan, saat ini banyak juga buku yang terbit langsung dibuat versi digital, atau hanya terbit secara digital.

“Buku itu dibaca menggunakan aplikasi di perangkat elektronik. Tampilannya bisa diatur sesuai keinginan,” jelasnya. Ditambahkan Adam, pasar dan teknologi buku digital ini terus berkembang.

Adam memaparkan data dari Statista Market Insights bahwa mayoritas pembaca buku digital adalah generasi Milenial dan Gen Z. Dari total pembaca, 52 persen adalam pembaca laki-laki dan 48 persen perempuan.

Mengutip data Statista dan Gramedia, jumlah segmen pembaca eBook dalam pasar media di Indonesia diproyeksikan akan mencapai 20 juta orang pada 2026.

Top genrenya, untuk fiksi: roman; young adult (novel remaja); fantasi, sci-fi; detektif dan misteri; manga. Sedangkan untuk nonfiksi: pengembangan diri; bisnis dan keuangan; biografi; memasak; kesehatan.

Jonminofri Nazir sepakat dengan Adam soal buku cetak tak akan hilang, meski sudah ada eBook.

“Dalam 20 tahun ke depan, masih akan ada. Sebab orang yang sudah berumur di atas 50 tahun atau sebagian yang 40 tahun tidak bisa lagi mengubah kebiasaannya membaca buku cetak,” bahas Jonminofri.

“Makin tua seseorang, dia masih lebih suka baca versi cetak. Tetapi anak-anak muda sekarang, seperti para mahasiswa saya, tidak melihat lagi koran versi cetak,” ungkap Jonminofri, yang juga dosen jurnalistik.

Jurnalis: Abriyanto 

beritalima.com

Pos terkait