Tanggungjawab Cendekiawan pada Generasi Selanjutnya di Era Post-Truth

oleh -91 views

SURABAYA – Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Surabaya kembali menggelar sekolah cendekiawan tiga yang berlangsung selama empat hari. Acara yang berlangsung di SMA Kertajaya Surabaya tersebut mengambil tema, “Cendekiawan Berpribadi, Menyemai Nalar Kritis di Era Post-Truth”.

Perkaderan yang diikuti oleh 22 peserta tersebut, merupakan utusan kader dari seluruh wilayah Indonesia yang telah melewati proses seleksi yang sangat panjang.


Proses perkaderan ini menjadi sangat penting dan menjadi tanggung jawab PC IMM Kota Surabaya mengingat peran Cendekiawan dalam sejarah peradaban Indonesia memiliki andil yang cukup besar dalam membangun kesadaran masyarakat dan identitas bangsa Indonesia.

Khususnya sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Tetapi, tidak mustahil pula jika pola pikir kader sebagai cendekiawan berubah menjadi Pragmatisme yang bahkan cenderung pada menatlitas sebagai abdi (hamba sahaya) kekuasaan yang justru kerapkali memenjarakan rakyat.

Sekolah cendekiawan yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut tersebut harapannya mampu menyemai nalar kritis kader IMM dalam berpikir dan bertindak khususnya di Era Post-Truth.

Dalam sambutan Ketua Umum PC IMM Kota Surabaya M.M. Firdaus Su’udi mengatakan, pentingnya kader agar berpikir secara kritis agar tidak mudah dibiasakan dengan mudah dengan adanya opini-opini yang beredar secara serampanagan dan belum tentu kebenarannya.

Saya berharap, kader-kader IMM agar mengurangi membaca situs-situs yang tidak valid, karena masih banyak referensi buku yang akan memperkuat wawasan dan membangun nalar kritis,” lugasnya. Selasa, (16/7/2019).

Kegiatan seperti ini akan memperkuat kesalehan kader dan tidak mudah tersulut emosi serta selalu menjaga ekspresi yang baik dalam bermedia sosial. Tabayyun sumber informasi sehingga dapat menemukan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Belajarlah untuk selalu kritis terhadap informasi apapun sehingga tidak terseret arus keberpihakan, selalu berlapang dada untuk menerima setiap perbedaan,” imbaunya. (ari)