SURABAYA, beritalima.com | Wakil Ketua DPRD provinsi Jawa Timur dari fraksi Partai Demokrat, Sri Wahyuni, meminta pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus. Hal itu menyusul data Kementerian Kesehatan RI yang mencatat 23 kasus seoul virus dalam tiga tahun terakhir, termasuk satu kasus di Jawa Timur.
Ia menilai temuan tersebut harus menjadi perhatian serius meski jumlah kasus di Jawa Timur masih relatif terbatas. Terlebih, angka kematian atau case fatality rate (CFR) penyakit itu mencapai 13 persen.
“Ini harus menjadi alarm kewaspadaan bersama. Jangan sampai masyarakat lengah terhadap ancaman penyakit yang bersumber dari lingkungan dan hewan pengerat,” ujar Sri Wahyuni.
Politikus Partai Demokrat itu mendorong Dinas Kesehatan bersama pemerintah kabupaten /kota memperkuat edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya pola hidup bersih serta pengendalian tikus di kawasan permukiman, pasar tradisional, hingga saluran air.
Menurutnya, kelompok pekerja dengan risiko tinggi seperti petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, hingga pembersih selokan perlu mendapat perhatian khusus melalui sosialisasi dan perlindungan kesehatan kerja.
“Pencegahan paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan. Karena virus ini berkaitan erat dengan sanitasi dan paparan dari tikus yang terinfeksi,” katanya.
Sri Wahyuni juga meminta fasilitas kesehatan meningkatkan deteksi dini terhadap pasien yang menunjukkan gejala mengarah pada hantavirus, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan lingkungan yang rentan terkontaminasi.
Ia menegaskan koordinasi lintas sektor perlu diperkuat agar potensi penyebaran penyakit dapat ditekan sejak dini. Pemerintah daerah, menurutnya, tidak boleh menunggu lonjakan kasus sebelum mengambil langkah antisipasi.
“Kami mendorong langkah preventif dilakukan secara masif. Edukasi masyarakat dan pengendalian lingkungan harus diperkuat supaya kasus tidak berkembang,” tegasnya.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI mencatat 23 kasus hantavirus jenis seoul virus dalam tiga tahun terakhir dengan tiga pasien meninggal dunia. Pada 2026, terdapat tambahan lima kasus baru, sementara kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta dan DIY.
Kemenkes juga menyebut penularan hantavirus dapat terjadi melalui gigitan tikus, paparan urine, saliva, kotoran, hingga debu yang telah terkontaminasi. Namun hingga kini belum ditemukan penularan antarmanusia di Indonesia.(Yul)








