Jakarta, beritalima.com|- Jelang puncak pelaksanaan ibadah haji, perhatian terhadap keselamatan jemaah Indonesia di Tanah Suci ditekankan DPR, mengingat bertambahnya jumlah jemaah yang wafat dan sakit karena cuaca ekstrem (sudah mencapai 38 derajat)
Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina meminta pemerintah memperketat pengawasan layanan kesehatan, transportasi, hingga aktivitas ibadah tambahan jemaah di Arab Saudi.
Permintaan itu disampaikan menyusul meningkatnya jumlah jemaah wafat serta bertambahnya jemaah yang menjalani perawatan intensif di tengah suhu ekstrem Arab Saudi.
“Saya pertama-tama mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Haji dan Umrah yang sudah menyelenggarakan pelaksanaan haji. Tetapi berdasarkan evaluasi kami, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian serius,” kata Selly sebelum Rapat Paripurna ke-18 DPR RI di Senayan, Jakarta (12/5).
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini ialah menekan angka kematian jemaah agar tidak melonjak pada fase puncak haji. Cuaca panas ekstrem, kepadatan mobilitas, serta tingginya aktivitas fisik menjadi kombinasi berbahaya, terutama bagi jemaah lansia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan.
“Yang harus menjadi perhatian kita adalah bagaimana menekan angka kematian agar tidak melonjak pada puncak haji nanti,” jelas legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Sorotan Selly tidak berhenti pada aspek medis. Ia mengkritisi kesiapan akomodasi dan kualitas pelayanan petugas di lapangan. Dari laporan diterimanya, masih terdapat hotel jemaah dengan jarak cukup jauh dari pusat aktivitas ibadah, sehingga berpotensi membebani kondisi fisik jemaah.
Dalam situasi cuaca ekstrem, jarak tempuh panjang dinilai bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut keselamatan. Karena itu, ia meminta petugas haji memastikan layanan transportasi dan pendampingan berjalan maksimal.
Selain akomodasi, Selly pantau kualitas konsumsi jemaah. Ia mengingatkan katering haji tidak boleh dipandang sekadar pemenuhan formalitas logistik, melainkan bagian penting dalam menjaga daya tahan tubuh jemaah selama berada di Tanah Suci.
Salah satu catatan paling tajam disampaikan Selly terkait pengawasan terhadap Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Ia mengaku masih menerima laporan adanya jemaah diarahkan berulang kali menjalankan umrah sunnah di tengah suhu panas dan kondisi fisik yang rentan menurun.
Menurutnya, praktik tersebut berpotensi meningkatkan kelelahan hingga risiko gangguan kesehatan serius. “Kami masih mendengar ada jemaah yang diarahkan berkali-kali melakukan umrah sunnah. Padahal cuaca sangat panas dan petugas terbatas. Ini harus menjadi perhatian,” katanya.
Di sisi lain, Selly singgung sistem layanan rumah sakit dan asuransi kesehatan jemaah Indonesia di Arab Saudi. Ia menilai pembatasan masa tanggungan asuransi justru menyulitkan jemaah yang masih membutuhkan perawatan lanjutan.
Akibatnya, sejumlah pasien disebut harus dipindahkan ke rumah sakit lain meski belum pulih sepenuhnya.“Kalau jemaah belum sembuh, harusnya tetap dirawat sampai selesai. Jangan dipindah-pindah hanya karena batas waktu asuransi,” tegasnya.
Jurnalis: rendy/abri








