Bertemu Pengurus Pemuda Pancasila, LaNyalla Singgung Dekrit 5 Juli 1959

  • Whatsapp

JAKARTA, Beritalima.com– -Momentum halal bi halal dikemas terbatas dan sederhana, tidak mengurangi bobot pembicaraan yang terjadi ketika Ketua DPD RI AA, LaNyalla Mahmud Mattalitti Ketua Umum Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila (PP), Japto Soerjosoemarno.

Halal bi halal yang dihadiri sejumlah pengurus Pemuda Pancasila itu berlangsung di Mako Cafe milik pengurus Pemuda Pancasila, Muhammad Ali Umar atau yang akrab disapa Tambul di Mampang Prapatan Jakarta Selatan, Minggu (16/5) malam.

Selain LaNyalla dan Japto, juga tampak hadir anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang juga anggota Majelis Pertimbangan Organisasi Pemuda Pancasila (MPO PP), Agung Laksono, jajaran pengurus MPO lainnya, Erwan Sukardja (ketua) dan Bona Tobing (wakil ketua). Ketua DPD Partai Golkar Aceh yang juga mantan Sekjend MPN PP TM Nurlif.

Obrolan diwarnai dengan diskusi serius seputar latar belakang lahirnya ormas PP yang tidak bisa dilepaskan dari peristiwa bersejarah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dimana itu menjadi momentum kesadaran nasional bahwa sistem pemerintahan presidensil yang terbaik bagi bangsa ini.

“Saya tadi menyinggung itu, karena kita mengaku masih menjalankan sistem pemerintahan presidensil, tetapi dengan kekuasaan parlemen yang juga heavy. Ini menarik sebagai bahan diskusi internal kita, sesama kader Pemuda Pancasila,” tukas LaNyalla.

Ditambahkan, PP selama ini terbukti ormas yang aktif bersama elemen lain untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan dan cita-cita luhur pendiri bangsa ini.
“Karena itu, setiap kali bertemu, yang kita bicarakan persoalan bangsa yang fundamental. Persoalan yang di hulu, bukan hilir. Sebab, pondasi dan arah bangsa ini ada di hulu. Ada di konstitusi, yang hingga hari ini telah mengalami empat kali amandemen.”

Sebab, tandas Senator dari Dapil Provinsi Jawa Timur itu, jika kita sibuk berbicara persoalan di hilir, melupakan persoalan di hulu, hasilnya hanya kuratif dan karitatif. “Tidak menyentuh akar persoalan. Malah yang terjadi kita berdebat kusir dan ribut sendiri. Dan itu yang diinginkan bangsa dan negara lain.”

Diskusi sekitar dua jam itu semakin aktif dengan kehadiran sejumlah pengurus MPN dan kader PP lainnya, seperti Ajib Shah, M Lutfi Ismail, Anto Rahman, Togar M Nero, Sangkar dan Piala Simanjuntak serta Sekjen MPN PP Arif Rahman. (akhir)

Pos terkait