Gerakan Pemilahan Sampah Harus Terintegrasi

  • Whatsapp
Gerakan pemilahan sampah harus terintegrasi (foto: beritajakarta)

Jakarta, beritalima.com – Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo mengatakan, gerakan pemilahan sampah harus berjalan terintegrasi, tak hanya dilihat sebagai persoalan limbah atau tempat pembuangan akhir. Sebab, ini berkaitan dengan berbagai aspek, mulai dari infrastruktur, budaya masyarakat, hingga peran pemerintah dan warga.

“Persoalan penanganan sampah itu menyangkut infrastruktur, perilaku kultural, peranan pemerintah daerah, dan seterusnya. Jadi perlu ada tindakan yang terintegrasi dan termonitor secara sistematik, jangan parsial atau sepotong-sepotong,” ucap Rio (11/5).

Rio apresiasi terbitnya Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Kebijakan tersebut menunjukkan keseriusan Pemprov DKI Jakarta dalam menangani persoalan sampah yang menjadi tantangan besar di ibu kota.

Jadi, rangkaian kebijakan pemilahan sampah mesti dibarengi kesiapan sarana dan prasarana di lapangan. Misalnya, tersedianya fasilitas pemilahan sampah di lingkungan warga hingga mekanisme pengangkutan sampah sesuai jenisnya.

Selain itu, Rio menekankan pentingnya membangun budaya memilah sampah di tengah masyarakat. Nah, perubahan perilaku memang membutuhkan waktu, namun bukan sesuatu yang mustahil dilakukan.

Dicontohkan Rio, pada era 1980-an membuang sampah dari kendaraan dianggap sebagai hal biasa. Namun kini perilaku tersebut mulai ditinggalkan karena adanya edukasi dan perubahan budaya di masyarakat. “Artinya ada edukasi, ada perubahan karakter atau budaya. Nah, ini juga perlu dibangun dalam konteks pemilahan sampah,” jelasnya.

Terkait penyediaan sarana dan infrastruktur, tambah Rio, ada tiga kemungkinan skema, yakni disiapkan pemerintah daerah, gotong royong warga, atau kolaborasi keduanya. Pada tahap awal, ia menilai, Pemprov DKI perlu lebih dominan untuk memberikan stimulus kepada masyarakat.

Pemprov DKI juga perlu melakukan pemetaan kesiapan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Sebab, setiap wilayah memiliki tingkat kesadaran dan karakter sosial yang berbeda. “Perlu ada jangkauan pemetaan soal ini. Di kawasan tertentu mungkin pemilahan sampah sudah bisa diterapkan, tetapi di wilayah dengan tingkat kerentanan sosial tertentu mungkin fokusnya masih pada membuang sampah pada tempatnya,” jelas Rio.

Jurnalis: abri/dedy

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait