Idul Adha di Depan Mata, Dosen Unair: Momen untuk Solidaritas Sesama

  • Whatsapp

SURABAYA, Beritalima.com-
Idul Adha merupakan momentum yang selalu dinanti oleh seluruh umat muslim di dunia. Momen tersebut melekat dengan keakraban dan kebersamaan.

Dosen Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Dr Mochtar Lutfi SS MHum menyebut momen itu sebagai pengingat dan penumbuh solidaritas. Pasalnya, meskipun teknologi dan ilmu pengetahuan telah maju, tetapi tidak lantas menjadikan manusia lebih damai.

“Makanya, momen Iduladha ini dapat menjadikan manusia lebih baik. Karena intisari kurban adalah mendekatkan diri kepada tuhannya,” ungkapnya.

Dua Esensi Idul Adha

Idul Adha mengandung dua esensi atau pemaknaan. Pertama, memberikan pengorbanan terbaik. Sesuai dengan cerita Nabi Ibrahim AS yang diminta Allah SWT untuk mengorbankan anak tunggalnya. Kedua, sebagai bentuk upaya mendekatkan diri dengan Tuhan. Dengan harapan perilaku semakin lebih baik.

“Sepakat dengan penjelasan Pak Quraish Shihab yang memberikan gambaran pada zaman Nabi Ibrahim, bahwa masyarakat saat itu memberikan kurban terbaik yang dimiliki untuk Tuhan,” ujarnya.

“Sebagai upaya untuk mendekatkan diri dengan Allah, maka penilaiannya bukan berapa harga kurban. Akan tetapi, mengorbankan sikap buruk untuk menjadi lebih baik,” tambahnya.

Idul Adha di Indonesia juga menjadi menarik karena bertepatan juga dengan dilaksanakan ibadah haji. Maka, masyarakat menyambut Hari Raya Idul Adha dengan lebih semangat. Bahkan, takbiran Idul Adha lebih meriah daripada Idul Fitri.

“Kalau Idul Fitri kan konteks individual lebih menonjol. Jika Idul Adha kan ada berbagi daging kurban, menyembelih bersama, dan nggak mungkin satu kurban itu untuk satu orang sendiri,” tuturnya.

Pesan untuk Masyarakat

Lutfi mengatakan, memang terdapat perbedaan pendapat terkait qurban yang seharusnya seperti apa. Di lingkungannya Sidoarjo, kurban lebih fleksibel. Masyarakat non-muslim juga mendapat jatah daging kurban, sehingga Idul Adha juga dapat menjadi momen toleransi antarumat beragama di Indonesia.

“Mungkin situasi sekarang tidak seperti yang diharapkan. Jadi, harus diingat semua yang terjadi di dunia selalu ada campur tangan Tuhan. Maka, ini menjadi motivasi kita untuk mengorbankan yang terbaik dan berguna bagi banyak orang,” tutupnya.(Yul)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait