Ketua DPD RI Minta Pemuda Pancasila Perkuat Ketahanan Sosial

  • Whatsapp

JAKARTA, Beritalima.com– Salah satu anugerah yang diberikan Tuhan kepada Indonesia adalah keberagaman suku dan ras. Karena itu, Bhineka Tunggal Ika diyakini sebagai alat perekat sosial yang paripurna di Indonesia.

Itu dikatakan anggota MPR RI yang juga Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Matttalitti dalam acara sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada pengurus Pemuda Pancasila (PP) Jawa Timur di Surabaya, Rabu (19/5).

Dikatakan, salah satu ukuran keberhasilan Bhineka Tunggal Ika adalah ketahanan sosial yang kuat di masyarakat. Di tengah derasnya informasi yang terkadang menyebabkan gesekan antar masyarakat. Dan, juga di tengah krisis ekonomi dampak dari Pandemi Covid-19.

“PP harus mengambil peran memperkuat ketahanan sosial. Karena PP lahir sebagai penjaga dan penguat nilai-nilai Pancasila, yang salah satunya menjaga kebhinekaan agar tetap menjadi ciri bangsa Indonesia sehingga bangsa lain belajar dari Indonesia,” tukas LaNyalla.

Sebab, saat mencetuskan Pancasila, pendiri bangsa sudah melalui proses dialog dan masukan dari hampir semua tokoh bangsa dengan beragam latar belakang.

Ada dari kalangan akademisi dan kaum terdidik, tokoh agama dan ulama, kaum pergerakan dan aktivis kemerdekaan, militer dan negarawan. “Jadi sudah lengkap. Suasana kebatinan saat itu berada dalam frekuensi yang sama, yaitu semangat merdeka, lepas dari penjajahan. “Sekaligus mensyukuri nikmat Tuhan, yaitu kemerdekaan. Itulah mengapa Pancasila yang digagas para founding fathers sudah paripurna.”

Ditambahkan, PP selama ini terbukti sebagai ormas yang aktif bersama elemen bangsa menjaga nilai-nilai kebangsaan dan cita-cita luhur pendiri bangsa ini. Karena itu, sudah seharusnya forum-forum PP diisi dengan diskusi persoalan-persoalan bangsa yang fundamental.

“Persoalan yang ada di hulu, bukan di hilir. Sebab, pondasi dan arah bangsa ini ada di hulu. Ada di konstitusi kita, yang hingga hari ini telah mengalami empat kali amandemen,” tandas Senator asal Jatim itu.

Sebab, lanjut LaNyalla, jika kita sibuk berbicara persoalan yang di hilir sementara melupakan persoalan di hulu, hasilnya hanya kuratif dan karitatif. “Tidak menyentuh akar persoalan. Malah yang terjadi kita berdebat kusir dan ribut. Dan itu yang diinginkan bangsa dan negara lain,” demikian AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. (akhir)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait