SURABAYA, beritalima.com | Perempuan, khususnya ibu, disebut memegang peran paling strategis dalam membangun budaya literasi keluarga. Sebab, rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan ibu merupakan guru pertama yang membentuk cara berpikir, karakter, sekaligus kecintaan anak terhadap ilmu pengetahuan.
Pandangan itu disampaikan anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama saat menjadi narasumber podcast Hari Kartini di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.
Menurut Lia, peran ibu dalam keluarga tidak sekadar mendampingi tumbuh kembang anak secara fisik, tetapi juga membangun emotional bonding yang kuat sebagai fondasi pendidikan karakter dan kebiasaan belajar.
“Ketika anak merasa dekat secara emosional dengan orang tua, terutama ibu, di situlah tumbuh rasa percaya, rasa nyaman, dan semangat belajar. Dari hubungan yang kuat, lahir budaya membaca dan budaya berpikir,” ujarnya.
Ia menilai perempuan hari ini adalah sosok multitasking yang tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga menjadi penggerak peradaban melalui pendidikan di lingkungan keluarga.
“Perempuan bukan hanya bicara hati. Perempuan adalah sosok kompleks yang mampu melahirkan generasi, menanam nilai, dan membangun masa depan bangsa,” tegasnya.
Lia menambahkan, budaya literasi harus dimulai dari rumah dengan langkah sederhana, seperti membiasakan anak dekat dengan buku, membacakan cerita, hingga menjadikan diskusi keluarga sebagai ruang belajar.
Baginya, membangun Indonesia Emas 2045 dimulai dari keluarga yang gemar membaca. Dan kunci utama dari rumah literasi itu adalah peran perempuan yang sadar bahwa dirinya bukan sekadar pendamping, melainkan penentu arah masa depan generasi.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si menegaskan bahwa keluarga merupakan ruang literasi paling mendasar dalam membentuk kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, kebiasaan membaca tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh dari pola asuh, keteladanan, dan lingkungan rumah yang akrab dengan pengetahuan.
“Ibu memiliki posisi sentral dalam menanamkan kecintaan membaca sejak dini. Bahkan literasi bisa dikenalkan sejak anak masih dalam kandungan melalui stimulasi bahasa, cerita, dan kebiasaan orang tua yang dekat dengan buku. Dari situlah fondasi kecerdasan generasi dibangun,” ujarnya.
Ia menambahkan, tingginya antusiasme kaum perempuan mengunjungi perpustakaan di Jawa Timur menjadi modal sosial penting dalam membangun ekosistem literasi berbasis keluarga.
Karena itu, pihaknya terus mendorong lahirnya ruang-ruang baca yang ramah perempuan, anak, dan keluarga sebagai bagian dari ikhtiar menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.(Yul)








