SURABAYA, beritalima.com | Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama mengajak perempuan Indonesia mengambil peran lebih besar dalam membangun peradaban melalui literasi.
Di tengah derasnya arus transformasi digital, perempuan dinilai tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi, tetapi harus naik kelas menjadi produsen pengetahuan yang menghadirkan gagasan, inspirasi, dan pengaruh positif bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan Lia saat menjadi narasumber podcast bertema “Perempuan sebagai Penggerak Literasi Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045” di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, dalam rangka memperingati Hari Kartini.
Menurut Lia, era digital telah membuka ruang sangat luas bagi publik untuk menyuarakan pemikiran. Bahkan, opini yang dibangun di ruang digital dapat memengaruhi cara pandang global terhadap isu kemanusiaan, keadilan, hingga perdamaian dunia.
Karena itu, perempuan harus hadir membawa narasi yang mencerahkan, berbasis pengetahuan, serta menebarkan nilai humanisme global.
“Nitizen hari ini bisa memengaruhi negara lain. Maka perempuan harus hadir membawa narasi humanisme global tentang keadilan, perdamaian, dan nilai kemanusiaan universal. Jangan hanya menjadi penonton di ruang digital, tapi jadilah pengarah arus perubahan,” ujar Lia.
Politisi perempuan yang dikenal aktif menyuarakan isu sosial dan pendidikan itu menegaskan, fondasi utama agar perempuan mampu menjadi penggerak perubahan adalah budaya membaca.
Menurutnya, buku bukan sekadar bacaan, melainkan instrumen membangun cara berpikir, memantik gagasan, dan membentuk karakter.
“Pena lebih tajam dari pedang. Sebuah buku mampu membangun cara berpikir, melakukan brainstorming, lalu diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Dari situlah lahir peradaban,” tegasnya.
Lia juga menyoroti rendahnya budaya baca di Indonesia yang masih menjadi pekerjaan rumah besar. Padahal, bonus demografi dan kecerdasan generasi muda Indonesia merupakan kekuatan besar menuju Indonesia Emas 2045 jika ditopang budaya literasi yang kuat.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si menegaskan bahwa semangat Kartini di era modern harus dimaknai sebagai perjuangan memperluas akses perempuan terhadap ilmu pengetahuan dan ruang aktualisasi intelektual.
“Literasi adalah ujung tombak pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045. Ketika perempuan kuat secara intelektual, keluarga akan kuat, masyarakat menjadi cerdas, dan bangsa memiliki daya saing global,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak perempuan Jawa Timur aktif membaca, menulis, berdiskusi, dan memanfaatkan ruang literasi sebagai sarana memperkuat kontribusi sosial di tengah perubahan zaman.(Yul)








