Jakarta, beritalima.com| – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) sinergi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) untuk mempersiapkan rencana penyelenggaraan The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya bersama Menlu Sugiono sepakat membangun diplomasi yang kuat, sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pemimpin Global South dan pusat ekonomi kreatif dunia.
“Sebagai elemen penting dalam Grand Strategy Diplomasi Soft Power Indonesia, ekonomi kreatif telah terbukti menjadi instrumen diplomasi yang efektif. Kemitraan erat dengan Kemlu adalah fondasi utama bagi Indonesia untuk terus memperkuat kepemimpinannya di kancah ekonomi kreatif global,” ujar Menteri Ekraf di Kantor Kemlu, Jakarta (19/5).
Pertemuan ini membahas penguatan kerja sama luar negeri serta mematangkan persiapan rencana penyelenggaraan The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Pembahasan taktis ini ditujukan untuk merumuskan substansi dan narasi ekraf di forum global, sekaligus membuka peluang investasi dan akses pasar dunia yang lebih luas bagi para pegiat ekonomi kreatif nasional.
“Kolaborasi ini sangat krusial, Jaringan kuat yang dimiliki Kemlu di tingkat global akan menjadi motor penggerak utama dalam menyukseskan agenda diplomasi kreatif kita dan memperluas dampak ekonomi nasional,” tambah Menteri Ekraf.
WCCE 2026 rencananya diamplifikasi dan dipromosikan melalui perwakilan Indonesia di luar negeri demi menarik partisipasi lebih dari 80 negara. Mengusung tema ‘Inclusively Creative: Collective Continuity’, konferensi multilateral ini berfokus pada keberlanjutan kerja sama antarbangsa dan akan menghadirkan tujuh elemen acara utama yaitu Friends of Creative Economy (FCE) Meeting, Ministerial Meeting, Plenary Session, Creative Session, Creativillage, Bilateral Meeting (B2B, G2G, G2B), serta Official Dinner.
Rangkaian rekam jejak kerja sama kedua kementerian telah terjalin kuat dalam dimensi multilateral, mulai dari kesuksesan WCCE 2018 di Bali, 2021 di Dubai, 2022 di Bali, hingga 2024 di Tashkent. Tidak hanya itu, sinergi ini juga sukses mengawal pengajuan Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait ekonomi kreatif pada tahun 2019 dan 2023, serta membangun kemitraan dengan organisasi internasional seperti WIPO, OACPS, dan UN DESA.
Di samping forum multilateral, kerja sama nyata juga diwujudkan melalui program peningkatan kapasitas bagi 79 negara anggota Organisasi Afrika, Karibia, dan Pasifik (OACPS) lewat Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST) di Bali. Pada tingkat bilateral, implementasi kolaborasi aktif ini telah terbangun kokoh dengan tujuh negara mitra strategis, yang meliputi Australia, Belanda, Denmark, Filipina, Thailand, Prancis, dan Inggris.
Jurnalis: abri/dedy








