TULUNGAGUNG, beritalima.com- Manajemen Pabrik Gula (PG) Mojopanggung, membuka musim giling tahun 2026. Pembukaan ditandai dengan digelarnya tradisi budaya leluhur “Manten Tebu” yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan akan kelancaran musim produksi gula tahun ini.
Acara ini dihadiri oleh Forkopimda Kabupaten Tulungagung termasuk Plt bupati Ahmad Baharudin, perwakilan PTPN X, Kepala Dinas Pertanian, Forkopimcam, General Manager PG. Mojopanggung, General Manager pabrik gula sekitar, pimpinan perbankan Mitra PG. Mojopanggung, Ketua APTRI, Ketua KPTR Mitra PG. Mojopanggung dan petani tebu di Kabupaten Tulungagung.
Dalam sambutannya, Plt. Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, mengatakan, tradisi Manten Tebu bukan sekadar seremoni tahunan. Tradisi yang telah diwariskan sejak masa kolonial tersebut menjadi simbol kesuburan, gotong royong, serta harapan masyarakat agraris terhadap hasil panen yang melimpah dan kesejahteraan bersama.
“Tradisi ini melambangkan harapan akan hasil produksi yang meningkat, nilai gotong royong, kebersamaan, serta rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah,” katanya.
Lanjutnya, tradisi Manten Tebu sendiri
menampilkan sepasang batang tebu pilihan yang dihias layaknya pengantin. Kedua batang tebu tersebut kemudian diarak dalam kirab budaya menuju mesin penggilingan sebagai tanda dimulainya musim giling.
Meski perkembangan zaman terus berlangsung, Pemerintah Kabupaten Tulungagung menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga dan melestarikan tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus simbol kejayaan industri gula di Tulungagung.
Selain menonjolkan nilai budaya, kegiatan pembukaan musim giling juga menjadi momentum untuk memaparkan target produksi sektor pertanian tebu di tahun 2026.
Berdasarkan data tahun 2025, luas areal tanaman tebu di Kabupaten Tulungagung mencapai kurang lebih 3.862 hektar dengan total produksi sekitar 366.890 ton tebu basah.
Untuk mendukung program swasembada gula nasional, pemerintah daerah menetapkan sejumlah target strategis pada tahun 2026. Diantaranya bongkar ratoon seluas 1.055 hektar serta perluasan areal tanam mencapai 176 hektar.
“Pemerintah berharap target tersebut dapat tercapai melalui sinergi antara Dinas Pertanian, pihak pabrik gula, dan para petani tebu di Kabupaten Tulungagung,” ungkapnya.
Plt Bupati juga menyampaikan empat poin harapan utama guna memajukan industri gula lokal. Pertama, peningkatan kualitas dan kuantitas produksi agar mampu menciptakan efisiensi, menjaga stabilitas harga gula di pasar, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Kedua, memperkuat kemitraan harmonis antara PG Modjopanggung dengan petani tebu.
“Ketiga, mendorong pemanfaatan teknologi pertanian modern guna meningkatkan produktivitas hasil panen serta memperkuat ketahanan pangan daerah. Kemudian, menjadikan industri gula Tulungagung sebagai salah satu sektor unggulan di Jawa Timur,” jelasnya. (Dst/editor Dibyo).




