KEPULAUAN SULA, beritaLima.com –
Masalah pelayanan kesehatan kembali menjadi sorotan publik di Kabupaten Kepulauan Sula. Banyak keluarga pasien mengeluhkan tingginya angka kematian pasien yang diduga kuat disebabkan belum lengkapnya fasilitas dan alat medis vital di RSUD Sanana, rumah sakit rujukan utama wilayah ini.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, layanan penunjang utama hingga saat ini belum beroperasi, di antaranya:
Unit Jantung: Belum ada alat EKG, alat pacu jantung maupun peralatan pemantau jantung. Pasien keluhan jantung harus dirujuk jauh ke luar daerah.
Laboratorium: Pemeriksaan darah masih dilakukan manual, alat otomatis untuk analisa darah dan kimia darah belum tersedia, sehingga hasil lambat dan berisiko kurang akurat.
“Cuci Darah / Hemodialisis: Fasilitas ini belum ada sama sekali. Penderita gagal ginjal terpaksa harus menempuh perjalanan jauh ke Ternate atau Ambon, banyak yang meninggal dalam perjalanan karena kondisi memburuk.
Masyarakat mempertanyakan janji yang sebelumnya disampaikan, di mana sempat diberitakan alat-alat tersebut sudah dibeli dan akan beroperasi, namun kenyataannya hingga kini belum dapat digunakan.
Menanggapi hal ini, Direktur RSUD Sanana, Uly Ngofangare, memberikan klarifikasi tegas. “Perlu diketahui bahwa alat cuci darah dan alat penunjang jantung itu tidak bisa langsung dipakai begitu saja. Penggunaannya wajib dijalankan dokter serta tenaga kompeten, seperti dokter spesialis jantung, spesialis penyakit dalam dan tenaga terapis dialisis. Mendatangkan tenaga ahli ke daerah ini sangat sulit, meskipun tawaran pembayaran sudah besar kami berikan, “kata Uly Ngofangare kepada media ini melalui Whats App, Sabtu (16/5/26)
Ia menjelaskan urutan tahapan yang harus dipatuhi: “Prinsipnya: tenaga harus ada terlebih dahulu, baru alat dapat disiapkan dan dipasang. Kami khawatir jika alat datang duluan namun tidak ada yang mengoperasikan, nanti justru dinilai perencanaan tidak matang, alat rusak tak terpakai dan dana terbuang sia-sia”.
Pihak rumah sakit menegaskan tidak mengabaikan pelayanan, dan terus berupaya merekrut tenaga kesehatan khusus. Selama proses pemenuhan, pasien kritis tetap dirujuk ke rumah sakit lengkap fasilitas.
Pihaknya juga membantah tudingan tidak serius, dan menyatakan keterlengkapan sarana dan prasarana sedang diproses bertahap sesuai aturan dan ketersediaan SDM.
Saat ini masyarakat berharap pemkab dan instansi terkait mempercepat penyelesaian masalah ini, agar warga Kepulauan Sula tidak lagi harus kehilangan nyawa akibat keterbatasan fasilitas kesehatan.








