SURABAYA,beritalima.com | Ancaman Hantavirus di Jawa Timur dinilai memasuki fase yang perlu diwaspadai secara serius. Anggota Komisi E DPRD provinsi Jatim, Dr dr Benjamin Kristianto MKes, menyebut munculnya sejumlah kasus baru diduga hanya menjadi “fenomena gunung es” dari potensi penyebaran yang lebih luas.
Menurutnya, keterbatasan alat deteksi dini membuat kemungkinan banyak kasus belum teridentifikasi di lapangan.
“Ada dua profil klinis virus yang dibawa melalui media tikus ini. Profil pertama menyerang paru-paru atau pulmonik dengan karakteristik mirip Covid-19, namun memiliki tingkat kematian sangat tinggi, mencapai 60 hingga 90 persen,” ujar dr. Benjamin usai mengikuti acara rapat paripurna di gedung DPRD provinsi Jawa Timur, Rabu (13/5/2026).
Sementara profil kedua memicu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yakni demam berdarah yang disertai gangguan ginjal, dengan tingkat kematian sekitar 15 persen.
“Kalau kerusakan ginjalnya berat, penanganannya bukan hanya mengatasi virus, tetapi juga membutuhkan tindakan hemodialisis atau cuci darah,” tegas politikus partai Gerindra tersebut.
Ia menilai pola penularan Hantavirus kini tidak lagi identik dengan lingkungan kumuh. Bahkan, kasus serupa disebut mulai ditemukan di fasilitas modern seperti kapal pesiar.
“Ini menjadi peringatan bagi pelaku usaha kuliner, mulai kafe, restoran hingga hotel, agar lebih disiplin menjaga kebersihan. Jangan sampai sisa makanan mengundang tikus sebagai vektor utama melalui kontak ludah maupun urine,” jelas dr. Benjamin.
Selain sektor swasta, dr. Benjamin juga menyoroti pengelolaan kebersihan dalam program makan bergizi gratis di sekolah. Ia mengingatkan pentingnya pengelolaan limbah makanan secara higienis agar tidak memicu berkembangnya tikus di lingkungan pendidikan.
“Sisa makanan harus dibuang di wadah tertutup rapat supaya area sekolah tidak menjadi sarang tikus,” imbuhnya.
Lebih lanjut, dr Benjamin mengakui deteksi massal Hantavirus tidak semudah penanganan penyakit seperti TBC. Karena itu, ia mendorong penguatan langkah preventif dan promotif di tengah masyarakat.
“Kami mengimbau masyarakat disiplin mengikat rapat sampah sisa makanan dan membuangnya ke tempat yang aman agar akses tikus ke area hunian bisa diputus. Sebab, keberhasilan penyembuhan sangat bergantung pada kecepatan deteksi dan daya tahan tubuh pasien,” pungkasnya.(Yul)








