Dr Ngudi Astuti: Ilmu Hubungan Internasional Miliki Daya Saing Kuat

  • Whatsapp
Dr Ngudi Astuti: Ilmu Hubungan Internasional miliki daya saing kuat (foto: istimewa)

Jakarta, beritalima,com| – Tak terlalu banyak perguruan tinggi mrmbuka program studi Ilmu Hubungan Internasional (HI), yang merupakan  bagian dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISP). Dan, tak sedikit masyarakat bertanya, lulusan dari FISIP HI akan diserap di sektor pekerjan mana saja?

Bagi Dr Ngudi Astuti, Dra., M.Si, Wakil Dekan III FISIP Universitas Jayabaya, Jakarta, lulusan dari FISIP HI miliki peluang “pangsa pasar yang luas dan multidimensional.”

Perempuan kelahiran Sragen (Jawa Tengah), Juni 1969, kini disamping dosen tetap di FISIP HI Universitas Jayabaya, sekaligus akademisi di bidang Ilmu Politik dengan fokus pada kajian Kebijakan  politik, dan kebijakan publik. Berikut ini wawancara tertulis beritalima (BL) dengan Ngudi Astuti (NA), terkait Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan prospek ilmu HI di Indonesia:

BL. Bagaimana Ibu memaknai Hardiknas saat ini?

NA. Hari Pendidikan Nasional dimaknai sebagai momentum reflektif dan strategis untuk meninjau kembali arah serta kualitas pendidikan nasional. Dalam perspektif akademik, Hardiknas tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi ruang evaluasi terhadap relevansi kurikulum, efektivitas pembelajaran, serta kontribusi pendidikan dalam membangun peradaban bangsa. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses transformasi yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, integritas, dan kapasitas adaptif generasi bangsa.

BL. Bagaimana Ibu menilai perkembangan dan tantangan pendidikan tinggi saat ini dan ke depan?

NA. Pendidikan tinggi saat ini mengalami transformasi signifikan, terutama dalam hal digitalisasi, internasionalisasi, dan pendekatan interdisipliner. Namun, tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks, meliputi kesenjangan mutu antar perguruan tinggi, tuntutan peningkatan kualitas riset, serta kebutuhan akan lulusan yang relevan dengan dinamika global. Perguruan tinggi dituntut untuk melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis, serta berdaya saing global.

BL. Sebagai pengajar di Program Studi Hubungan Internasional, apakah minat mahasiswanya masih tinggi?

NA. Program Studi HI tetap memiliki daya tarik kuat di kalangan generasi muda. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kompleksitas isu global seperti geopolitik, diplomasi, ekonomi internasional, dan keamanan global. Minat tersebut menunjukkan adanya kesadaran generasi muda untuk memahami posisi dan peran Indonesia dalam tatanan dunia internasional.

BL. Bagaimana prospek kerja, sistem magang, serta pangsa pasar lulusan HI?

NA. Secara akademik dan praktis, lulusan HI memiliki pangsa pasar yang luas dan multidimensional. Mereka dapat berkiprah di sektor pemerintahan (Kementerian Luar Negeri, lembaga negara), organisasi internasional, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan multinasional, media internasional, hingga sektor riset dan akademik.

Program magang menjadi instrumen penting dalam menjembatani dunia akademik dengan dunia kerja. Melalui skema magang yang terstruktur dan kolaboratif, mahasiswa HI dapat memperoleh pengalaman empiris, meningkatkan kompetensi profesional, serta memperluas jejaring global.

Output yang diharapkan dari lulusan HI mencakup kemampuan analisis geopolitik, diplomasi, negosiasi internasional, serta pemahaman lintas budaya. Dengan kompetensi tersebut, lulusan HI memiliki daya saing yang cukup kuat di pasar kerja nasional maupun internasional.

BL. Apa strategi menarik minat mahasiswa ke Program Studi HI, khususnya di FISIP Universitas Jayabaya?

NA. Strategi dalam menarik mahasiswa ke Program Studi HI perlu dilakukan secara komprehensif dan berbasis pendekatan akademik serta praktis. Beberapa langkah strategis antara lain:

  • Penguatan kurikulum berbasis global: Menyelaraskan materi pembelajaran dengan isu-isu internasional terkini, seperti diplomasi digital, geopolitik kawasan, dan ekonomi global.
  • Peningkatan kerja sama institusional: Menjalin kemitraan dengan lembaga pemerintah, organisasi internasional, dan sektor industri untuk membuka peluang magang dan penyerapan lulusan.
  • Penguatan branding akademik: Menampilkan keunggulan program studi, capaian alumni, serta kontribusi dosen dalam riset dan publikasi ilmiah.
  • Pendekatan edukatif kepada calon mahasiswa: Memberikan pemahaman bahwa studi HI bukan sekadar tren, tetapi membutuhkan kapasitas analitis, kemampuan bahasa asing, serta wawasan global.
  • Pengembangan soft skills dan kompetensi global: Seperti kemampuan komunikasi internasional, negosiasi, dan pemahaman lintas budaya.

Dengan strategi tersebut, diharapkan Program Studi HI tidak hanya mampu menarik minat mahasiswa, tetapi juga menghasilkan lulusan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Jurnalis: abriyanto

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait