Hari Bhakti Korps Hiu Kencana, Patriot Dari Dalam Laut

  • Whatsapp
KRI Nanggala di masa lalu. Hari Bhakti Korps Hiu Kencana, mengenang patriot dari dalam laut (foto: dokpribadi soebagio).

Jakarta, beritalima.com| – Korps Kapal Selam TNI AL atau dikenal dengan Hiu Kencana, sejak 2021 peringati setiap 21 April sebagai Hari Bhakti, yang menunjukkan perannya sebagai patriot dari dalam laut, merujuk pada peristiwa tragis dialami KRI Nanggala-402 di Perairan Bali.

Sebanyak 53 prajurit Hiu Kencana gugur dalam peristiwa di Perairan Bali pada 21 April 2021, saat menjalani latihan.  Keberadaan alat utama sistem senjata (alutsista) Kapal Selam bagi pertahanan Indonesia (khususnya TNI AL), memang telah menunjukkan peran dan efek gentar sudah lama. Dalam perjalanan sejarahnya, Indonesia pernah sangat disegani dalam kancah internasional, karena memiliki selusin kapal selam kelas Whiskey dari Rusia di era Perang Dingin.

Melihat kebelakang peran Kapal Selam TNI AL, dalam konteks hari Bhakti Korps Hiu Kencana, menarik membuka lembaran sejarah dalam misi Operasi Jayawijaya (Pembebas Irian Barat) pada 1962. Saat itu, ada tiga kapal selam TNI AL menjalani misi rahasia yang mendapat perintah langsung dari Presiden Soekarno – dikenal dengan Operasi Trikora, Jayawijaya bahkan Cakra – yakni KRI Tjandrasa-408 dikomandani Mayor (P) Mardiono, KRI Nagarangsang-405 oleh Mayor (P) Agus Subroto dan KRI Trisula-404 di bawah komando Mayor (P) Teddy Asikin.

Menariknya, salah satu kapal selam tersebut, KRI Tjandrasa, membawa Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD, sekarang Kopassus) yang diturunkan menuju daratan Irian Barat. Meski penyusupan kapal selam tersebut sempat tercium pihak kolonial Belanda, namun pasukan RPKAD sudah berhasil masuk ke Tanah Merah atau Iran untuk melakukan sabotase.

Atas keberhasilan menurunkan pasukan ini, seluruh kru KRI Tjandrasa mendapat tanda jasa tertinggi dari negara: Bintang Sakti. Salah satu yang menerima Bintang Sakti ini adalah Letnan Laut R. Soebagio, sebagai perwira torpedo. Soebagio, kelahiran Semarang 1931, bergabung ke TNI AL pada 1956 dan lulus 1959.

“Saat menerima Bintang Sakti bapak belum menikah,” kisah Yusuf Tripradityo, anak ketiga dari pasangan Soebagio-Mudiati kepada beritalima. Soebagio dengan NRP 988, menerima Bintang Sakti tertanggal 29 Januari 1963, ditantangani Presiden/Panglima Tertinggi Soekarno dan Menteri Pertahanan Juanda.

Yusuf menjelaskan bagaimana sang ayah berpesan agar “selalu rendah hati, mudah bergaul, dan jujur, serta jangan tinggalkan ajaran agama.” Soebagio yang pernah merasakan Pendidikan di Rusia, juga pernah menjadi Komandan KRI Ratulangie, Kapal Tender untuk Kapal Selam.

Wafat pada Agustus 2019 denga pangkat terakhir Kolonel serta dimakamkan di TMP Kalibata, Soebagio pernah menjabat sebagai anggota DPR, MPR dan BP7. Semasa hidupnya, ia tak pernah memaksakan kehendak agar ketiga anaknya ada yang menjadi prajurit di TNI. Namun, dalam perjalanannya, anak pertamanya, Erwin S. Aldedharma, justru mengikuti jejak ayahnya ke TNI AL dan bahkan telah berpangkat jenderal bintang tiga (Laksamana Madya) sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Laut dan kini menjadi Wakil Gubernur Lemhannas.

Jurnalis: abriyanto

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait