beritalima.com

Menag RI : Pemeluk Agama Abrahamik Harus Jujur dan Mengakui

  • Whatsapp

Jakarta | beritalima.com – Tema membangun saling memahami antara muslim, kristen, dan yahudi sebagai keluarga abrahamik melalui pendidikan, sebagai rangkaian dialog antar agama-agama Abrahamik sejak tahun 2020 yang lalu.

“Pada dialog tersebut telah disepakati bahwa “Tugas utama kita adalah mencari titik-titik temu sebagai keluarga besar agama-agama Abrahamik untuk dapat bekerja sama demi perdamaian dan kemajuan peradaban manusia”, ujar Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas, dalam sambutan Webinar ke-4, pada Senin (18/1/2021).

Hadir pada kesempatan itu, Jakob Tobing (Chairman Institut Leimena), Alwi Shihab (Senior Fellow Institut Leimena), Syekh Dr. Mohammad bin Abdulkarim Al-Issa (Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia dan Anggota Dewan Ulama Senior Arab Saudi), Pdt. Henriette T. Hutabarat-Lebang (Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan);
Rabbi David Rosen, KSG, CBE (Direktur Internasional Hubungan Lintas Agama American Jewish Committee dan Anggota Dewan Direktur KAICIID);
Prof. Dr. M. Amin Abdullah (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Ketua Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Dalam webinar disebutkan bagaimana dapat membangun saling memahami dan menghormati antar umat Muslim, Kristen, dan Yahudi sebagai sebuah keluarga Abrahamik melalui pendidikan, terutama di sekolah-sekolah. Yaqut Cholol Qoumas menegaskan harus mengembalikan fungsi agama kepada khittahnya yaitu agama sebagai sumber inspirasi, sebagai sumber kasih sayang, sebagai sumber kebaikan dan perdamaian.

“Pentingnya kita mengembangkan trilogi persaudaraan, yaitu merawat persaudaraan sesama pemeluk suatu agama, memelihara persaudaraan sesama warga bangsa dan memupuk persaudaraan sesama umat manusia,” pungkasnya.

beritalima.com

Namun ditambahkan Menteri Agama, harus berkomitmen memajukan dunia pendidikan kita dengan mengembangkan wawasan keagamaan yang wasyatiyah, toleran dan kontekstual.

“Ini saya kira masing-masing kita para pemeluk agama Abrahamik ini untuk secara jujur mengakui. Jika kita tidak jujur, maka persoalan-persoalan yang selama ini mengganggu atau merusak peradaban umat manusia,” imbuhnya.

Masih dikatakan Yaqut, sebenarnya bisa dicita-citakan menjadi baik tapi hancur, luluh lantak, karena sikap yang salah dalam memahami agama ini bisa kita hindari.

Reporter : Dedy Mulyadi

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait