Ungkap Penceramah Radikal, Fahri: Minta BIN Tidak Melakukan Pekerjaan Publik

oleh -103 views

JAKARTA, Beritalima.com– Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah meminta Badan Intelijen Negara (BIN) tidak melakukan pekerjaan publik seperti kegiatan melarang atau melakukan sesuatu.

BIN seharusnya, kata Fahri menyampaikan informasi kepada satu orang, yakni Presiden terkait keterangan BIN yang menyebut ada 50 penceramah diduga menyebarkan paham radikal di 41 masjid.

www.beritalima.com

“BIN kan single user. BIN hanya memberikan informasi kepada Presiden, bukan mengumbarnya ke publik,” tegas politisi senior sekaligus deklarator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, Kamis (22/11).

Informasi intelijen, lanjut politisi yang dikenal kritis ini, seharusnya dibisikkan ke telinga Presiden. Bilapun informasi penting dan harus diumumkan, pihak terkait lain yang melakukannya, seperti Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), kalau itu terkait dengan organisasi atau lain-lain.

“Hal itu membuat reputasi BIN sebagai lembaga intelijen turun. Jadi, BIN harus dijaga sebagai indra negara melalui Presiden dalam rangka menjaga dan melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia,” ujar wakil rakyat dari Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut.

www.beritalima.com
www.beritalima.com
www.beritalima.com

Seperti diberitakan banyak media, juru bicara Kepala BIN, Wawan Hari Purwanto mengungkapkan adanya 50-an penceramah yang menyebarkan paham radikal di 41 masjid.

Bahkan pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI), terhadap para penceramah tersebut.

Menurut Wawan, ada tiga kategori radikal yakni rendah, sedang dan tinggi. “Kalau yang rendah, masih dalam kategori yang masih ditolerir nilainya. Kalau sedang sudah mulai mengarah ke kuning, kuning itu perlu disikapi lebih. Tapi yang merah artinya sudah parahlah, ini perlu lebih tajam lagi untuk bagaimana menetralisir keadaan,” jelas Wawan.

Dia menerangkan kategori tinggi atau merah itu sudah mendorong ke arah gerakan seperti simpati ke ISIS dan Marawi, serta membawa aroma konflik di Timur Tengah ke Indonesia.

“Jadi mereka yang kategori ‘Merah’ mengutip ayat-ayat perang, misalnya. Sehingga menimbulkan pengaruh ke emosi, sikap, tingkah laku, opini, dan motivasi publik,” papar Wawan Purwanto. (akhir) www.beritalima.com

www.beritalima.com