Bamsoet Ajak WNI Keturunan Tionghoa Gunakan Hak Pilih Pada Pemilu

oleh -28 views

JAKARTA, Beritalima.com– Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengajak warga negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa aktif menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 17 April mendatang.

Partisipasi semua warga negara, termasuk WNI keturunan Tionghoa dalam Pemilu merupakan bagian dari perjuangan membangun bangsa Indonesia.
Perayaan Imlek menjadi bukti nyata betapa bangsa Indonesia mengakui budaya etnis Tionghoa.

Sebagai bagian dari warga negara yang memiliki hak pilih, WNI keturunan Tionghoa, kata politisi senior Partai Golkar ini, harus manfaatkan hak itu sebaik mungkin.


“Jangan Golput, karena setiap suara tak ternilai harganya. Apakah Bangsa Indonesia tetap bisa merajut kebhinekaan dan memperkokoh persatuan, semua tergantung bagaimana cara pemimpin kita membawa ke arah mana masa depan bangsa dan negara ini,” kata dia saat menghadiri perayaan Imlek Nasional 2019 di JIEXPO, Jakarta, Kamis (7/2).

Turut hadir dalam acara itu Presiden Joko Widodo, Mantan Presiden RI, Megawati Soekarnoputri, Mantan Wakil Presiden RI Try Sutrisno, Ketua DPD Oesman Sapta Odang dan sejumlah undangan lainnya.

Laki-laki yang akrab disapa Bamsoet ini mengatakan, sejarah mencatat etnis Tionghoa juga sama seperti etnis lain yang berada di Nusantara, seperti Jawa, Batak, Sunda, Melayu, Minang dan lain sebagainya.
Perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan juga tidak bisa dipisahkan dari keberadaan etnis Tionghoa.
Pemuda Tionghoa juga turut aktif dalam deklarasi Sumpah Pemuda yang merupakan salah satu penguat pondasi pencapaian kemerdekaan Indonesia.

Di Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) juga terdapat empat orang Tionghoa, yaitu Oei Tjong Hauw, Oei Tiang Tjoei, Tan Eng Hua dan Liem Koen Hian. “Tak hanya itu, sejarah juga mencatat Jap Tjwan Bing sebagai seorang etnis Tionghoa yang turut meresmikan UUD 1945,” tutur Bamsoet.

Karena itu, dia menilai, perayaan Imlek yang disemarakan di berbagai wilayah, juga merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Merayakan Imlek merupakan bagian dari merayakan kebhinekaan bangsa Indonesia.

“Perbedaan etnis, suku, agama, maupun kepercayaan memang tidak bisa dinafikan dalam kehidupan. Namun kita sudah buktikan kepada dunia, bahwa di Indonesia, perbedaan tersebut bukan menjadi bencana melainkan menjadi anugerah,” tegas Bamsoet.

Ditambahkan, perayaan Imlek yang dilakukan di berbagai daerah menjadi saksi betapa realitas multikulturalisme yang sempat dilupakan beberapa waktu lamanya, telah kembali bersemi dengan indah. Menjadi penyubur tanah Indonesia dan penghias kecantikan bangsa.

“Perayaan Imlek dengan pertunjukan barongsai, tabuhan bedug saat idul fitri, denting lonceng saat natal, maupun heningnya suasana saat Nyepi, semuanya merupakan keragaman bangsa Indonesia. Tidak ada bangsa di dunia ini seberadab bangsa Indonesia dalam menyikapi kemajemukan. Kita senantiasanya bersatu dalam naungan kedamaian NKRI,” terang Bamsoet.

Atas dasar hal itu, Bamsoet menilai, bangsa Indonesia patut berterimakasih kepada mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur yang telah menyingkirkan awan gelap yang bukan hanya telah mengisolasi etnis Tionghoa saja, melainkan juga turut membelenggu bangsa Indonesia sekian puluh tahun.

“Dengan adanya payung hukum terhadap perayaan Imlek, ini menandakan pula terbukanya kesempatan kepada etnis TIonghoa lebih mengabdikan diri kepada bangsa dan negara Indonesia melalui jalur sosial, ekonomi dan politik. Mari bersatu padu membangun Indonesia, tanah tumpah darah kita bersama,” demikian Bambang Soesatyo. (akhir)