DPR Ingatkan Waspadai Hantavirus, Gejalanya Mirip Penyakit Umum

  • Whatsapp
Anggota DPR Netty P. Aher ingatkan waspadai Hantavirus, hejalanya mirip penyakit umum (foto: tvp)

Jakarta, beritalima.com|-  Kemunculan kasus Hantavirus di sejumlah daerah dinilai menjadi peringatan baru bagi sistem kesehatan Indonesia yang masih lemah dalam deteksi dini penyakit menular.

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, meminta pemerintah tidak menganggap enteng penyebaran penyakit zoonosis tersebut meski jumlah kasus yang tercatat belum besar.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, sedikitnya 23 kasus Hantavirus ditemukan dalam tiga tahun terakhir di sembilan provinsi dengan tiga kematian. Tingkat fatalitas yang mencapai 13 persen disebut menunjukkan bahwa ancaman penyakit ini tidak bisa dipandang sebagai kasus sporadis biasa.

“Walaupun jumlah kasusnya belum besar, tingkat fatalitas yang mencapai 13 persen tidak boleh dianggap ringan. Pemerintah harus bergerak cepat memperkuat deteksi dini, surveillance, dan edukasi kesehatan masyarakat,” kata Netty dalam keterangannya (10/5).

Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus, terutama dari urine, kotoran, air liur, atau debu yang telah terkontaminasi. Gejalanya kerap menyerupai flu biasa, mulai dari demam, sakit kepala, nyeri otot, hingga sesak napas. Kondisi itu dinilai membuat banyak kasus terlambat dikenali.

“Karena gejalanya mirip penyakit umum lainnya, masyarakat sering terlambat menyadari. Padahal jika kondisi memburuk, Hantavirus dapat menyerang paru-paru maupun organ tubuh lainnya dan berisiko fatal,” ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera itu.

Netty menilai munculnya kasus Hantavirus tidak bisa dilepaskan dari persoalan sanitasi lingkungan yang belum tertangani serius. Permukiman padat, pengelolaan sampah yang buruk, serta tingginya paparan tikus dinilai menjadi faktor yang memperbesar risiko penularan.

“Ini menjadi alarm penting bahwa kesehatan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari kualitas lingkungan. Pencegahan harus dimulai dari pengendalian faktor risiko di masyarakat,” jelasnya.

Ia meminta Kementerian Kesehatan memperkuat surveillance epidemiologi serta meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam mendeteksi gejala sejak dini. Menurut dia, pemerintah juga perlu memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dalam pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi, dan edukasi publik agar penanganan tidak kembali bersifat reaktif setelah kasus membesar.

“Kita tidak boleh menunggu kasus membesar baru bertindak. Prinsip kesehatan masyarakat adalah mencegah sebelum menjadi wabah,” ujar Netty.

Jurnalis: rendy/abri

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait