Jakarta, beritalima.com| – Hari Pers Dunia 2026 seharusnya menjadi perayaan kebebasan, tetapi Gaza mengingatkan kita pada sisi paling kelam dari profesi ini. Di sana, kamera dan pena dianggap ancaman, dan jurnalis menjadi target langsung serangan.
Bayangkan seorang fotografer muda yang berlari ke lokasi serangan udara untuk merekam penderitaan warga sipil. Dalam hitungan detik, ia sendiri menjadi korban. Mobil dengan tanda “PRESS” ditembak, tenda pengungsian tempat wartawan beristirahat dihantam peluru, dan kantor berita hancur rata dengan tanah.
Setiap nama yang gugur bukan sekadar angka. Mereka adalah saksi bisu yang tak sempat menuliskan cerita terakhir. Hamza Al-Dahdouh, Mustafa Thuraya, Ismail Al Ghoul, dan puluhan lainnya menjadi simbol bahwa di Gaza, menjadi jurnalis berarti menantang maut setiap hari.
Sejak agresi Israel ke Gaza, Oktober 2023, wilayah ini menjadi kuburan bagi jurnalis: lebih dari 235–262 wartawan dan pekerja media telah terbunuh, ratusan lainnya terluka, ditahan, atau hilang. Konflik ini tercatat sebagai yang paling mematikan bagi jurnalis dalam sejarah modern.
Jumlah korban wartawan yang gugur, dari data IFJ (International Federation of Journalists): setidaknya 235 jurnalis dan pekerja media terbunuh di Gaza hingga April 2026. CPJ (Committee to Protect Journalists): mendokumentasikan 207 jurnalis terbunuh, termasuk 32 yang diduga ditargetkan langsung karena pekerjaan mereka.
Gaza Government Media Office: melaporkan 262 jurnalis terbunuh, lebih dari 420 terluka, dan sekitar 50 ditahan. Untuk kondisi penahanan bagi wartawan internasional, yakni lebih dari 240 jurnalis ditahan selama perang, dengan 40 masih dalam tahanan, sebagian tanpa dakwaan resmi.
Intimidasi dan serangan ikut mewarnai profesi wartawan di lapangan. Banyak jurnalis perempuan menjadi korban pelecehan, sementara kantor media dihancurkan, komunikasi diputus, dan wartawan dipaksa bekerja dalam kondisi nyaris tanpa perlindungan.
Dari peristiwa di Gaza, menjadi sebuah ujian moral dunia. Jika jurnalis dibungkam dengan peluru, maka kebenaran ikut terkubur. Hari Pers Dunia harus menjadi seruan global: melindungi jurnalis bukan sekadar melindungi profesi, tetapi melindungi hak rakyat untuk tahu.
Tanpa pers bebas, tragedi Gaza hanya akan menjadi kabut propaganda. Dan, dari peristiwa di Gaza, kita pun sebagai wartawan khususnya, bisa banyak mengambil pelajaran penting dalam melakukan profesi peliputan di daerahnya masing-masing.
Oleh: M. Abriyanto, wartawan








