Perang Israel vs IRAN, Perseteruan Antara KAPITALISME lawan ISLAM

  • Whatsapp
Noor Fatah. Perang Israel vs IRAN, perseteruan antara KAPITALISME lawan ISLAM

Jakarta, beritalima.com|- Agresor perang yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS)-Israel didukung sekutunya sebagian negara Arab seperti: Saudi Arabia, UEA, Kuwait, Qatar, Bahrain dan Yordania menyerang Iran belum terlihat ada tanda berakhir.

AS-Israel menyerang IRAN dengan dalih memiliki senjata Nuklir (padahal AS-Israel pemilik senjata Nuklir, ini standar ganda); faktanya negara kapitalis itu sesungguhnya ingin memperluas kekuasaannya dan menguasai sumber daya alam atau SDA/migas (jiwa imperalisme-kapitalisme).

Jadi, tuduhan IRAN memiliki senjata nuklir hanya alasan yang dibuat-buat, persis sama ketika AS meng-agresi Afghanistan, Libya dan Irak, Syria dengan berbagai alasan untuk merampok ladang migas negara-negara di kawasan teluk.

Di IRAN, target AS-Israel mengganti sistem pemerintahan Islam kembali ke sistem sekularisme dengan Reza Pahlavi (anaknya Muhammad Reza Pahlavi digulingkan melalui Revolusi Islam IRAN pasa 1979 lalu) sebagai boneka-nya AS.

Dengan sombongnya, AS sebagai negara adidaya yang memiliki Alutsista canggih plus anggaran militer super jumbo tentunya akan sangat mudah mengalahkan IRAN, seperti telah dicontohkannya dengan mudah menaklukan Venezuela serta menangkap Presidennya Nicolas Maduro Moros.

Realitasnya, AS dan sekutunya mengeroyok IRAN sama sekali tidak mampu mengganti sistem Wilayatul Faqih (sistem teokrasi Islam). Karena faktanya IRAN berbeda jauh dengan Venezuela.

IRAN selama 47 tahun diblokade AS-Barat tetap mampu berdikari membangun sains dan teknologi, dibidang kedokteran, farmasi, Alutsista rudal hipersonik, drone kamikaze, dan bidang sosial-ekonomi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam yg berlandaskan Al-Qur’an & Hadits.

Jadi, perang kali ini adalah pertarungan dua ideologi, imperalisme-kapitalisme dan spiritualisme Islam. Dengan kata lain, sistem kapitalisme Unipolar yang menindas akan tergantikan oleh sistem tata kelola global yang Multipolar lebih egaliter dan berkeadilan yant didukung oleh kebanyakan negara selama ini tertindas juga seperti, Brazil, Cina, Rusia, Afrika Selatan (tergabung dalam BRICS termasuk Indonesia).

“Innalilaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta yughayyiruu maa bi anfusihim” {sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (ikhtiar merubah nasib dari penindasan orang² dzalim).

Oleh: Noor Fatah, SE, Sekjen PNS {Politik Nusantara Sejahtera}

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait