Indonesia Butuh Imajinasi Besar, Anis: Kampus Harus Pelopori Gerakan Pemikiran

  • Whatsapp

JAKARTA, Beritalima.com– Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Muhammad Anis Matta berpandangan, masa depan Indonesia tidak ditentukan aliansi poltik, tapi aliansi kampus.

 

Sebab, kata Anis, kampus akan melahirkan sebuah gerakan intelektual baru serta mempelopori gerakan pemikiran tentang Arah Baru Indonesia.

Harus dicoba mulai satu gerakan intelektualdan pemikiran baru tentang Indonesia.

“Bagi saya dalam membangun Indonesia ke depan, ini jauh lebih fundamental daripada membentuk aliansi politik,” ungkap Anis dalam diskusi ‘Membaca Politik Taliban dan Masa Depan Geopolitik Dunia Islam’ di Jakarrta akhir pekan ini.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Aceh-Yogyakarta secara virtual ini, menurut Anis, partai politik (parpol) perlu membentuk aliansi dengan kampus dan seluruh akademisi.

 

“Kita bisa mendiskusikan semua pertanyaan mengenai pemikiran manusia tentang satu model ekonomi baru yang tatanan globalnya benar-benar runtuh, ” kata politisi senior ini.

 

Neoliberalisme telah memunculkan ketimpangan sosial dan kelompok Ultranasionalis di Amerika dan Eropa, akibat sistem kapitalisme.
“Eropa dan Amerika perlahan-lahan mulai meninggalkan kapitalisme dan beralih ke sosialisme. China dari sosialisme justru menjadi kapitalisme.”

 

Itu artinya, negara-negara di dunia sedang mencari sebuah sistem tatanan global baru, karena tidak mungkin lagi menggunakan sistem kapitalisme dan sosialisme.

 

“Kapitalisme merusak lingkungan dan menimbulkan ketimpangan sosial, sementara sosialisme menghalangi kebebasan demokrasi. Dua sistem ini tidak mungkin lagi diterima secara global,” kata Anis.

Hal ini, ungkap Wakil Ketua DPR RI 2009-2014 tersebut menjadi peluang bagi Indonesia ikut menentukan sistem tatanan global baru, sehingga menjadi kekuatan global.

 

“Indonesia bisa menjadi kekuatan kelima besar dunia dan ikut menentukan sistem tatanan baru global, atau menjadi outsider seperti selama ini, menerima dan melaksanakan sistem tersebut,” kata dia.

Untuk mewujudkan Indonesia sebagai lima besar dunia, Anis mempunyai kepentingan untuk menghidupkan kembali aliansi kampus yang akan menjadi pondasi pemikiran gerakan intelektual baru Indonesia.

 

“Sudah waktunya kita berhenti menjadi sekedar konsumen pemikiran orang. Kita sudah harus menjadi produsen pemikiran-pemikiran. Gerakan intelektual baru ini akan memberikan jawaban atas persoalan dunia dan di Indonesia sekarang.”

Karena itu, pria kelahiran Waledo, Bone, Sulawesi Selatan, 7 Desember 1968 tersebut menyesalkan bila ada parpol yang lebih mengedepankan politik transaksional seperti memberikan bantuan sosial, ketimbang memberikan ruang bicara untuk ‘pergulatan intelektual’.

 

“Pada dasarnya memberikan bantuan impact dari krisis itu bukan tugas partai. Tetapi krisis menyebabkan orang menjadi pragmatis, dan politisi keluar dari diskursus intelektual dan masuk politik pasar,” tegas Anis.

Anis berharap, parpol mengajak para intelektual baru dari kampus untuk berbicara kepada rakyat serta mengubah perbincangan di warung kopi dan media sosial dengan perbicangan yang substansial.

 

“Kita mulai gerakan supaya kosakata yang berhubungan dengan ideologi lebih mendominasi. Ini akan menjadi permulaan yang dashyat untuk merumuskan peta jalan baru Arah Baru Indonesia,” demikian Muhammad Anis Matta. (akhir)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait