Ke Mana Tito Karnavian Setelah Menjadi Kapolri?

  • Whatsapp

Oleh: Yousri Nur Raja Agam

Hari-hari dalam pekan ini banyak yang mengacungkan jempol, kepada Jenderal Polisi Tito Karnavian. Perwira tinggi (Pati) Polri itu dalam waktu singkat di tahun 2016 ini dua kali naik pangkat. Dari Irjen menjadi Komjen pada bulan Maret, lalu menjadi Jenderal bulan Juli, karena menduduki jabatan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri).

Kenaikan pangkat Tito Karnavian dari Irjen (Inspektur Jenderal) tahun 2012, menjadi bintang tiga, yakni Komjen (Komisaris Jenderal) tanggal 14 Maret 2016 adalah penyesuaian karena jabatannya sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Di usia 51 tahun itu, Tito yang merupakan lulusan Akpol (Akademi Kepolisian) tahun 1987, “menyalib” atau mendahului beberapa seniornya.

Data yang berhasil dihimpun, di antara senior yang dilewati Tito adalah: Irwasum Komjen Dwi Prayitno (angkatan 1982), Wakapolri Komjen Budi Gunawan (angkatan 1983), Kepala BNN Komjen Budi Waseso (angkatan 1984), Kabaharkam Komjen Putu Eko Bayuseno (angkatan 1984), Kapusdiklat Polri Komjen Syarifuddin (angkatan 1985), dan Sekretaris Utama Lemhannas Komjen Suhardi Alius (angkatan 1985).

Nah, begitu DPR menyetujui “calon tunggal” Kapolri yang diusulkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi, maka tanggal 12 Juli 2016, pangkat Tito naik menjadi Jenderal Polisi. Tito menggantikan Jenderal Polisi Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun tahun 2016 ini.

Memang, terpilihnya Tito diapresiasi banyak kalangan. Termasuk di lingkungan Bhayangkara sendiri. Mantan Kepala Densus 88 Antiteror ini dianggap layak, karena ia memiliki segudang prestasi. Tak hanya dari segi akademis, sejumlah promosi jabatan dan kenaikan pangkat luar biasa Tito dapatkan semasa bertugas di kepolisian.
Sebagai Kapolri, tugas yang akan dilaksanakan sudah sudah menanti. Tantangan utama yang harus dijawab Tito adalah berbagai kritik dan keluhan masyarakat terhadap kepolisian, baik sebagai lembaga, maupun pribadi-pribadi yang menyandang predikat polisi.

Sampai-sampai ada pejabat di kepolisian yang menyatakan secara guyon, mengeluarkan juke: Jangankan melihat polisi di jalan, melewati “polisi tidur” saja, masyarakat sudah menggerutu. Jadi, saat ini kalangan kepolisian sendiri menyadari, masyarakat memang resah menghadapi ulah oknum aparat kepolisian. “Polisi tidur” yang dimaksud adalah sebutan untuk jalan yang ditinggikan melintang guna memperlambat laju kendaraan di jalan raya sampai ke jalan-jalan di komplek perumahan.

Gara-gara itu, keberhasilan dan kemampuan polisi mengungkap perkara, kadangkala tidak dianggap istimewa. Padahal, tidak sedikit keberhasilan polisi Indonesia yang dicatat oleh pihak Internasional sebagai prestasi yang menakjubkan. Antara lain, pengungkapan cepat terhadap pelaku bom dan teror di berbagai tempat.

Tito Karnavian, adalah “nama besar” yang dianggap sukses memimpin Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Penghargaan luar biasa diterimanya ketika menjadi ketua tim yang berhasil membongkar jaringan teroris pimpinan Noordin Moch Top, yakni kenaikan pangkat luar biasa dari Kombespol menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen) Polisi.
Demikian pula kemudian, ketika bersama timnya berhasil melumpuhkan teroris Azahari Husin dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur. Azahari merupakan seorang insinyur Malaysia yang diduga kuat menjadi otak di balik bom Bali 2002 dan bom Bali 2005 serta serangan-serangan lainnya yang dilakukan Jemaah Islamiyah.

Namun di balik keberhasilan Tito dalam berbagai rangkaian antiterorisme, ada keberanian lain yang dilakukannya. Satu catatan lagi, ketika memimpin Tim Kobra, ia berhasil menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, putra mantan Presiden RI HM Soeharto, pada 2001. Tommy ditangkap dalam kasus pembunuhan hakim agung Syafiudin.

Perbincangan terhadap Tito Karnavian masih berkepanjangan. Ke manakah nanti, pria kelahiran Palembang, 26 Oktober 1964 ini, setelah menjadi Kapolri? Tentu tidak mungkin anak mantan wartawan senior bernama Achmad Saleh ini akan menjabat Kapolri sampai pensiun. Tito dianggap “masih muda”, usianya kini 51 tahun. Tentu tidak mungkin ia akan menduduki posisi Kapolri sampai pensiun di usia 58 tahun atau 60 tahun kelak.

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *