Blora, beritalima.com|- Di tengah upaya bangsa memutus rantai kemiskinan, pendidikan kembali menjadi garda terdepan. Presiden Prabowo melalui program Sekolah Rakyat menegaskan komitmen negara untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem (Desil 1) dan miskin (Desil 2).
Program ini bukan sekadar menyediakan bangku sekolah, melainkan membuka peluang bagi mereka yang selama ini terpinggirkan untuk mengubah masa depan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangan besar menanti: kemampuan literasi dan numerasi siswa sangat beragam, bahkan sebagian masih kesulitan memahami hitungan dasar atau membaca teks sederhana.
Pertanyaannya, apakah ada solusi yang benar-benar efektif untuk menjembatani kesenjangan ini? Fenomena di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 18 Blora, Jawa Tengah, memberi gambaran nyata.
Hasil asesmen awal menunjukkan 26 persen siswa masih membutuhkan pendampingan literasi, sementara 24 persen belum memahami operasi hitungan dasar seperti perkalian dan pembagian. Angka ini jelas mengkhawatirkan, sebab literasi dan numerasi adalah fondasi utama untuk belajar mata pelajaran lain.
Tanpa intervensi serius, mustahil sekolah dapat mengantarkan mereka menuju cita-cita yang lebih tinggi. Dari sinilah lahir gagasan program literasi numerasi berdiferensiasi.
Program ini dilaksanakan setiap hari Kamis, sehari penuh, dengan pendekatan yang berbeda dari pembelajaran biasa. Siswa tidak lagi belajar dalam kelas heterogen, melainkan dikelompokkan sesuai hasil asesmen kemampuan literasi dan numerasi.
Guru merancang materi yang benar-benar sesuai kebutuhan masing-masing kelompok. Bagi siswa yang sudah memiliki kemampuan literasi baik, mereka diberi tantangan lebih, seperti analisis jurnal ilmiah atau latihan soal Tes Kemampuan Akademik dan UTBK. Sementara kelompok menengah difokuskan pada literasi yang menunjang kehidupan sehari-hari, seperti analisis teks praktis.
Adapun kelompok yang masih lemah mendapat bimbingan intensif untuk memahami tabel, teks sederhana, hingga hitungan sehari-hari. Pendekatan ini memastikan tidak ada siswa yang tertinggal, sekaligus memberi ruang bagi yang lebih maju untuk berkembang.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan fasilitas dan tenaga pendidik. Setiap siswa dibekali laptop, sementara kelas dilengkapi dengan Interactive Flat Panel (IFP) yang membuat pembelajaran lebih interaktif dan tidak membosankan.
Guru-guru Sekolah Rakyat adalah fresh graduate yang telah mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Energi muda mereka, ditambah kompetensi profesional dan kecakapan digital, menjadi modal utama dalam menggerakkan program.
Tidak berhenti di ruang kelas, wali asuh dan wali asrama turut mendampingi siswa pada malam hari, memberi penguatan literasi dalam suasana yang lebih santai. Pendekatan holistik ini menunjukkan pendidikan bukan hanya urusan jam belajar, melainkan ekosistem yang mendukung anak sepanjang hari.
Hasilnya mulai terlihat. Setelah satu semester, jumlah siswa dengan literasi rendah menurun dari 26 persen menjadi 12 persen. Numerasi yang semula 24 persen turun menjadi 8 persen. Lebih dari sekadar angka, perubahan ini tampak dari sikap siswa yang semakin percaya diri dan antusias membaca.
Perpustakaan sekolah mencatat peningkatan jumlah buku yang dipinjam, menandakan tumbuhnya minat belajar yang sebelumnya nyaris padam. Ini bukti bahwa intervensi yang tepat dapat mengubah arah perjalanan pendidikan anak-anak dari keluarga miskin.
Dari pengalaman SRMA 18 Blora, kita belajar bahwa literasi numerasi berdiferensiasi bukan sekadar metode, melainkan strategi transformatif. Pertama, program ini menegaskan pentingnya pendekatan berbasis kebutuhan. Tidak semua siswa bisa diperlakukan sama, sebab latar belakang mereka berbeda. Dengan diferensiasi, setiap anak mendapat hak belajar sesuai kemampuannya.
Kedua, program ini menunjukkan teknologi adalah katalisator. Laptop dan perangkat interaktif bukan sekadar alat, melainkan jembatan yang membuat pembelajaran lebih menarik dan relevan. Ketiga, keberhasilan program ini menegaskan bahwa guru adalah ujung tombak. Energi, kompetensi, dan dedikasi guru menjadi faktor penentu, apalagi ketika didukung oleh lingkungan asrama yang memberi pendampingan berkelanjutan.
Namun, tantangan tetap ada. Program ini membutuhkan komitmen besar dari pemerintah untuk memastikan ketersediaan fasilitas di semua Sekolah. Tidak semua daerah memiliki akses teknologi yang memadai.
Selain itu, guru perlu terus mendapat pelatihan agar mampu mengembangkan metode pembelajaran kreatif sesuai perkembangan zaman. Di sisi lain, dukungan masyarakat juga penting. Literasi tidak bisa hanya dibangun di sekolah, tetapi harus menjadi budaya di rumah dan lingkungan sekitar.
Harapan ke depan, literasi numerasi berdiferensiasi dapat menjadi model nasional. Jika diterapkan secara konsisten, program ini berpotensi memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem tidak lagi sekadar menjadi penerima belas kasihan, tetapi tumbuh sebagai generasi yang percaya diri, kritis, dan siap bersaing.
Pendidikan yang inklusif dan transformatif seperti ini adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Pada akhirnya, literasi dan numerasi bukan hanya soal membaca buku atau menghitung angka. Ia adalah keterampilan hidup yang menentukan bagaimana seseorang memahami dunia, mengambil keputusan, dan membangun masa depan.
Program literasi numerasi berdiferensiasi di Sekolah Rakyat membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat, anak-anak dari latar belakang paling miskin sekalipun bisa melangkah maju. Optimisme ini harus terus dijaga, sebab pendidikan adalah satu-satunya jalan yang benar-benar mampu mengubah nasib bangsa.
Oleh: Tri Yuli Setyoningrum, M.Pd, Kepala SRMA 18 Blora








