Jakarta, beritalima.com|- Pemerintah melalui Airlangga Hartarto dan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% dan disebut sebagai salah satu tertinggi di kelompok G20.
Narasi itu kemudian diposisikan sebagai bukti ekonomi Indonesia lebih kuat dibanding banyak negara lain, bahkan dianggap mampu melampaui Amerika Serikat, China, maupun Singapura.
Di atas kertas, angka tersebut memang terlihat menakjubkan. Dalam ruang konferensi pers, ia terdengar meyakinkan. Tetapi dalam perspektif strategic geoeconomic intelligence, angka pertumbuhan tak pernah bisa dibaca secara dangkal dari persentase semata. Pertanyaan jauh lebih penting adalah: pertumbuhan itu lahir dari fondasi apa, ditopang sektor apa, menghasilkan kekuatan nasional seperti apa, dan benar-benar dirasakan oleh siapa.
Karena dalam ekonomi modern, persentase sering kali menciptakan ilusi. Bayangkan ada dua orang pedagang. Pedagang pertama memiliki modal Rp20 juta lalu setahun kemudian meningkat menjadi Rp24 juta. Secara statistik, pertumbuhannya mencapai 20 persen.
Sementara pedagang kedua memiliki modal Rp2 triliun dan bertambah menjadi Rp2,1 triliun. Secara persentase, pertumbuhannya hanya sekitar 5 persen.
Jika hanya melihat persentase, maka pedagang pertama tampak lebih hebat. Tapi dalam realitas ekonomi, kemampuan ekspansi usaha, daya tahan terhadap krisis, kekuatan investasi, dan pengaruh pasar jelas jauh lebih besar dimiliki pedagang kedua.
Disinilah kesalahan umum dalam membaca pertumbuhan ekonomi Indonesia. Persentase tinggi tidak otomatis berarti ekonomi lebih kuat.
China contoh paling jelas. Pertumbuhan ekonominya mungkin hanya kisaran 5 persen. Namun 5 persen milik China lahir dari fondasi ekonomi sangat besar dan kompleks. China adalah pusat manufaktur dunia, pengendali rantai pasok global, eksportir teknologi, pemain utama AI (artificial intelligent), kendaraan listrik, semikonduktor, hingga industri pertahanan modern.
Artinya, setiap satu persen pertumbuhan China menghasilkan nilai ekonomi riil yang sangat besar serta memperkuat pengaruh geopolitiknya di tingkat global. Pertumbuhan China bukan sekadar angka statistik. Ia adalah ekspansi kekuatan nasional.
Singapura pun demikian. Pertumbuhan ekonominya mungkin lebih rendah dibanding Indonesia, tapi ja memiliki pendapatan per kapita sangat tinggi, mata uangnya kuat, pusat finansial internasional, serta sistem investasi yang dipercaya dunia.
Karena itu, pertumbuhan 4 persen Singapura memiliki kualitas ekonomi sangat berbeda dibanding pertumbuhan 5 atau 6 persen Indonesia.
Sebab ukuran kekuatan ekonomi modern bukan hanya growth (pertumbuhan). Yang menentukan adalah produktivitas, kualitas institusi, kedalaman teknologi, daya beli masyarakat dan kemampuan menciptakan nilai tambah tinggi.
Lalu muncul pertanyaan sangat sederhana namun sulit dibantah: jika ekonomi Indonesia benar-benar sedang sangat kuat, mengapa sebagian besar rakyat tidak merasakan ledakan kesejahteraan tersebut?
Mengapa daya beli masih terasa berat. Mengapa biaya hidup terus naik. Mengapa kelas menengah mulai tertekan. Mengapa PHK tetap terjadi di berbagai sektor. Dan mengapa nilai rupiah masih terus berada dalam tekanan terhadap dolar AS.
Karena pertumbuhan ekonomi tak otomatis berarti kesejahteraan merata. Dalam banyak kasus, pertumbuhan bisa terdorong oleh belanja pemerintah, proyek infrastruktur, ekspor komoditas, atau konsumsi jangka pendek. Secara statistik ekonomi memang naik, tetapi belum tentu menciptakan transformasi struktural yang memperkuat fondasi bangsa dalam jangka panjang.
Dan indikator paling jujur dalam membaca kesehatan ekonomi sebuah negara tak hanya dihadapan konferensi pers atau angka presentasi di layar televisi. Indikator paling jujur adalah mata uangnya sendiri.
Mata uang adalah refleksi kepercayaan. Ia mencerminkan bagaimana pasar global menilai kekuatan produksi sebuah negara, kualitas ekonominya, daya tahan fiskalnya, serta kemampuan menciptakan nilai tambah tinggi.
Indonesia boleh klaim pertumbuhan tinggi. Tapi jika rupiah terus melemah terhadap dolar AS dalam jangka panjang, maka pasar global sebenarnya sedang memberikan sinyal berbeda.
Pasar tidak membaca slogan. Pasar membaca produktivitas. Di sinilah perbedaan mendasar antara growth dan wealth creation (tata kelola kekayaan). Banyak negara bisa tumbuh tinggi karena konsumsi meningkat, proyek meningkat, atau utang meningkat. Tapi tak semua negara mampu menciptakan kekayaan nasional berkelanjutan.
Kekayaan nasional hanya tercipta ketika sebuah negara berhasil membangun industri bernilai tambah tinggi, menguasai teknologi, memperkuat kualitas sumber daya manusia, dan menciptakan perusahaan-perusahaan global yang mampu bersaing di pasar dunia.
Indonesia hingga hari ini masih menghadapi persoalan struktural serius. Ketergantungan terhadap komoditas masih tinggi. Industrialisasi belum mendalam. Teknologi strategis masih banyak bergantung pada impor. Dan ekonomi nasional masih lebih kuat sebagai pasar konsumsi dibanding pusat inovasi global.
Akibatnya, ketika harga komoditas global naik, ekonomi terlihat tumbuh kuat. Tetapi ketika siklus global berubah, tekanan langsung terasa pada nilai tukar, fiskal, hingga daya beli masyarakat.
Negara yang benar-benar kuat bukan hanya negara yang mencatat growth tinggi di laporan statistik. Negara kuat adalah negara yang mata uangnya dipercaya, industrinya dominan, teknologinya memimpin, dan rakyatnya memiliki daya beli yang stabil.
Rakyat hidup dari harga beras, biaya sekolah, tagihan listrik, cicilan rumah, kesempatan kerja, dan nilai uang yang mereka pegang setiap hari.
Indonesia memang memiliki potensi besar. Bonus demografi, sumber daya alam, pasar domestik yang luas, dan posisi geopolitik strategis adalah modal sangat berharga. Tetapi potensi tersebut tidak otomatis menjadi kekuatan.
Karena dalam dunia geoeconomic intelligence, legitimasi ekonomi bukan dibangun oleh angka diumumkan di podium. Melainkan oleh satu pertanyaan paling sederhana: Apakah rakyat benar-benar merasa hidupnya membaik?
Oleh: Airvin Hardani, pemerhati pasar modal






