Polemik Presiden netral atau berpihak dalam pemilu 2024

  • Whatsapp
Pembina LPKAN Wibisono

Jakarta, Pekan ini di hebohkan berita terkait Presiden Jokowi yang menyatakan bahwa Presiden boleh kampanye dan memihak, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku bahwa seorang pemimpin negara memiliki hak untuk melakukan kampanye pada tahun politik seperti pemilihan umum (pemilu).

Hal ini disampaikannya usai menghadiri seremoni penyerahan Pesawat A-1344, Helikopter Fennec dan Helikopter Panther Tahun 2024 di Lanud Halim Perdana Kusuma, Rabu (24/1/2024).

Menurut pengamat kebijakan publik dan pembina Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Wibisono mengatakan Pernyataan Jokowi tentu memicu perdebatan. Pasalnya, presiden bukan kontestan pemilu 2024. Selain itu, presiden jabatannya segera berakhir, meski putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, maju sebagai calon wakil presiden alias cawapres Prabowo Subianto.

Lanjutnya, Di sisi lain, beberapa waktu lalu, Jokowi menekankan agar seluruh aparatur sipil negara (ASN) pemerintahan baik di tingkat kabupaten/kota hingga tingkat pusat untuk menjaga netralitasnya pada Pemilu 2024. Hal yang sama juga berlaku bagi aparat TNI-Polri.

Bagaimana kita menyikapinya pernyataan presiden ini?, tanya Wibisono.

“Pernyataan presiden itu merupakan pendapat presiden sesuai aturan UU No 7/2017 Pasal 281 memang membolehkan presiden kampanye dan harus cuti. Namun, secara etika politik hal itu menjadi masalah.” Ujar Wibi

”Apakah presiden bisa menjaga etika politik ketika berkampanye?”, imbuhnya

“Sesuai aturan Undang undang presiden boleh cuti dan lakukan kampanye apabila dia merupakan calon petahana yang maju kembali pada kontestan pemilu, seperti pada tahun 2019, Jokowi maju kembali menjadi calon presiden kedua kalinya, tapi kali ini Jokowi tidak menjadi peserta pemilu, yang tentunya akan menguntungkan calon tertentu yang dia dukung.” Jelasnya.

“Dengan demikian yang dikawatirkan akan mempengaruhi kenetralan TNI-POLRI dan ASN yang dibawah, apabila presiden terang terangan mendukung calon tertentu,atau malah justru sebaliknya, rakyat akan menjadi apatis terkait pelaksanaan pemilu kal ini akan berlaku netral, jujur dan adil, sehingga pemilu ini tidak sukses dengan banyaknya jumlah pemilih yang golput,” pungkasnya

beritalima.com

Pos terkait