Bagaimana Sebaiknya Orang Tua Memahami Anaknya Berkebutuhan Khusus?

  • Whatsapp
Bagaimana sebaiknya orang tua pahami anaknya berkebutuhan khusus? (foto: kemendikdasmen)

Jakarta, beritalima.com| – Menjadi sebuah pekerjaan rumah cukup serius bagi orang tua bila memiliki anak kandungnya berkebutuhan khusus, siapkah dalam pendampingannya? Ketika sebuah keluarga mendapati anak mereka terlahir dengan kebutuhan khusus, pertanyaan pertama muncul biasanya bukan “apa bakat anak saya?” Tapi, “bagaimana nasib anak ini kalau saya sudah tidak ada nanti?”

Ada rasa cemas, bingung, dan kadang rasa bersalah yang dipendam sendiri oleh orang tua. Sebelum kita menuntut anak-anak ini untuk mandiri dan berprestasi, ada satu hal yang sering kita lupakan: bagaimana membantu orang tua agar bisa berdamai dengan kenyataan di lapangan?

Kenyataan inilah yang dibahas dalam diskusi online yang diadakan oleh Yayasan Peduli Kasih ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) di  Surabaya (9/5), diikuti puluhan orang tua secara virtual. Diskusi ini menghadirkan Agil Torresia, seorang pendidik yang mendirikan Athalia’s Blessing Special Education.

Agil menyampaikan hal sangat mendasar. Kunci utama mendampingi anak difabel bukan mencari obat atau terapi paling mahal, melainkan penerimaan utuh dari orang tuanya sendiri. “Setiap anak lahir dengan benih potensi yang unik. Tugas orang tua adalah menyediakan tanah yang subur agar mereka bisa bertumbuh dengan bahagia,” kata Agil.

Menerima kondisi ABK memang berat. Namun, menurut Agil, saat orang tua berhenti menyalahkan diri sendiri, mereka baru bisa melihat kelebihan si anak. Ia menyarankan cara sederhana. Ambil buku catatan, amati anak setiap hari dan tulis apa saja perkembangan positif maupun kesulitan yang mereka hadapi.

Dari catatan harian itu, orang tua bisa tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan anak. Langkah ini tentu tidak bisa dilakukan sendiri. Orang tua harus aktif bergerak mencari bantuan luar, seperti berkonsultasi dengan psikolog, dokter anak, atau terapis.

Di rumah, anak-anak yang kesulitan bicara sering kali merasa stres karena sulit menyampaikan kemauannya. Agil menyarankan orang tua untuk memakai alat bantu yang mudah dipahami, seperti kartu gambar atau bahasa isyarat. Saat memberi perintah, gunakan kalimat pendek dan jelas agar anak tidak bingung. Menjaga rutinitas harian yang teratur juga penting agar anak merasa aman dan tidak cemas.

Satu lagi pesan penting dari Agil: jangan buru-buru memasukkan anak ke banyak les atau kegiatan. Coba satu-satu secara bertahap, misalnya berenang dulu atau menggambar dulu. Lihat apakah anak menikmati kegiatan tersebut atau tidak.

Mendengar cerita ini, kita perlu melihat kenyataan lebih luas. Selama ini, urusan membesarkan ABK seolah-olah menjadi beban orang tua sendirian. Padahal, persoalan besarnya ada pada lingkungan kita.

Mungkin masalahnya bukan pada kemampuan anak-anak ini. Bisa jadi, ruang di masyarakat kita yang masih terlalu sempit. Percuma jika orang tua sudah menerima anaknya dengan lapang dada di rumah, tetapi saat keluar rumah, sekolah-sekolah umum menolak mereka, tempat kursus tidak menerima dan fasilitas umum tidak ramah.

Kritik ini harus diarahkan pada sistem di sekitar kita yang belum membuka jalan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk ikut membaur. Kita tak bisa membiarkan para orang tua berjuang sendirian di dalam rumah mereka.

Perlu ada langkah nyata dari lingkungan sekitar: sekolah yang mau menyesuaikan cara belajarnya, tetangga yang menerima tanpa memberi stigma, dan pemerintah yang menyediakan fasilitas publik yang ramah difabel.

Kemandirian anak berkebutuhan khusus bukanlah sesuatu yang instan. Semua butuh proses setapak demi setapak, mulai dari penerimaan di rumah, bantuan tenaga medis, hingga tersedianya kesempatan yang setara di luar rumah.

Jurnalis: abdul hadi/abri

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait