KEPULAUAN SULA, beritaLima.com – Kekecewaan mendalam kembali diungkapkan keluarga pasien terkait kualitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Masalah utama yang dikeluhkan masyarakat adalah belum tersedianya berbagai peralatan medis vital dan penunjang diagnosa yang seharusnya menjadi standar pelayanan dasar. Kondisi ini dinilai sangat menyulitkan penanganan penyakit dan membebani warga yang terpaksa harus berobat ke luar daerah dengan biaya dan risiko tinggi.
Berdasarkan keluhan yang disampaikan, pelayanan kesehatan di bidang jantung sama sekali tidak didukung fasilitas memadai. Berbagai alat krusial disebut belum tersedia di rumah sakit daerah tersebut. Mulai dari alat rekam aktivitas jantung dasar yakni Elektrokardiogram (EKG/ECG), alat pacu jantung (Pacemaker), hingga Holter Monitor — alat pemantau jantung yang merekam aktivitas dalam jangka waktu lama — semuanya diklaim tidak ada. Akibatnya, dokter tidak bisa melakukan pemeriksaan dan penanganan langsung bagi pasien dengan keluhan jantung, sehingga pasien terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit lain yang lebih lengkap fasilitasnya.
Ketiadaan alat lengkap juga dirasakan di unit laboratorium, yang menjadi tulang punggung penegakan diagnosa penyakit. Dua alat utama yang sangat dibutuhkan disebut belum tersedia, yaitu Hematology Analyzer dan Spektrofotometer. Hematology Analyzer berfungsi melakukan pemeriksaan darah lengkap secara otomatis, meliputi penghitungan sel darah merah, sel darah putih, kadar hemoglobin, dan komponen darah lainnya. Sementara Spektrofotometer digunakan untuk mengukur kadar zat kimia dalam tubuh yang dibutuhkan untuk tes biokimia. Tanpa alat ini, pemeriksaan harus dilakukan secara manual yang dinilai berisiko menghasilkan diagnosa kurang akurat serta memakan waktu lama.
Kekurangan yang paling berat dampaknya menurut masyarakat adalah belum tersedianya fasilitas pencuci darah atau hemodialisa. Alat ini sangat menentukan nyawa bagi penderita gagal ginjal kronis yang membutuhkan tindakan medis rutin. Karena tidak ada di daerah, para pasien terpaksa menempuh perjalanan jauh dan menyeberang laut ke kabupaten lain atau ibu kota provinsi, dengan biaya besar serta risiko kondisi kesehatan memburuk di tengah perjalanan.
“Kami sangat kecewa dengan fasilitasnya. Untuk berobat saja harus jauh-jauh dan keluar biaya besar, padahal ini rumah sakit milik daerah kami sendiri,” ungkap salah satu keluarga pasien dengan nada kesal.
Menanggapi keluhan tersebut, Direktur RSUD Sanana, Ulia Handayani Ngofangare, memberikan penjelasan yang berbeda bahkan membantah keras informasi yang beredar saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp..di..nomor 0813-8108-xxxx,
Kamis (14/5/2026). Menurutnya, informasi yang beredar tersebut keliru dan tidak sesuai fakta lapangan.
“Informasi ini keliru. Semua alat yang disebutkan saat ini tersedia di RSUD Sanana, kecuali alat pacu jantung (Pacemaker), karena memang RSUD Sanana belum memiliki dokter spesialis jantung,” tegas Ulia.
Ia juga mengakui terkadang ada kendala teknis pada alat-alat tersebut, namun hal itu disebabkan faktor pemakaian tinggi dan kondisi pasokan listrik di daerah yang kerap tidak stabil.
“Tidak menutup kemungkinan kadangkala terjadi kendala pada alat-alat tersebut karena pemakaian dengan intensitas tinggi dan juga listrik yang tidak stabil menjadi penyebab erornya alat. Namun jika terjadi kerusakan atau gangguan, biasanya kami segera perbaiki dengan cara mendatangkan teknisi maupun suku cadang jika diperlukan,” tambahnya.
Ulia juga menyindir pihak yang menyebarkan informasi tersebut karena dianggap terlalu paham detail alat medis namun dinilai menyampaikan data yang salah. “Tapi jago juga bos bisa dengan fasih menyebut nama alat dan fungsi dengan baik. Salam sehat saja buat sumbernya,” ujarnya dengan nada sinis.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sula, Fianty Buamona, yang juga dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp hingga berita ini ditulis belum memberikan tanggapan atau jawaban terkait keluhan masyarakat maupun kondisi fasilitas kesehatan yang menjadi sorotan tersebut.
Adanya perbedaan informasi yang tajam antara keluhan masyarakat dan penjelasan pihak rumah sakit ini menimbulkan tanda tanya besar. Masyarakat pun berharap pemerintah daerah segera turun tangan memverifikasi fakta di lapangan, memastikan kelengkapan dan kelaikan alat kesehatan, serta memperbaiki kualitas pelayanan agar warga Kepulauan Sula mendapatkan hak kesehatan yang layak tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke luar daerah.(d)








