“Bangkandel Mirip Kartel Kayu Jati,” Uny Saputra Sebut Dugaan Mafia Hutan di Purwoharjo Sangat Terorganisir

  • Whatsapp

BANYUWANGI, Beritalima.com – Ketua Pendopo Semar Nusantara, Uny Saputra, angkat bicara terkait dugaan praktik penjarahan kayu jati di kawasan hutan Dusun Bangkandel, Desa Sumbersari, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi.

Dengan nada prihatin, Uny menggambarkan aktivitas dugaan pencurian kayu jati di wilayah tersebut seperti jaringan mafia yang tersusun rapi dan terorganisir.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, pola pergerakan para pelaku sangat mirip dengan jaringan ilegal yang bekerja secara sistematis. Bahkan, ia menyebut kondisi itu mengingatkannya pada kisah kartel narkoba di Kolombia era Pablo Escobar, hanya saja yang diperebutkan di Bangkandel bukan narkotika melainkan kayu jati bernilai tinggi.

“Kalau di Kolombia dulu terkenal dengan mafia narkoba Escobar, di Bangkandel ini yang muncul dugaan mafia kayu jati ilegal. Cara kerjanya menurut saya ngeri karena tersusun rapi dan terorganisir,” ujar Uny.

Ia menuturkan, dugaan jaringan itu bukan sekadar pencurian biasa. Menurutnya, ada pola yang dimainkan mulai dari aktivitas keluar masuk hutan di luar jam kerja, penggunaan kendaraan rakitan grandong, hingga dugaan pemantauan situasi agar aktivitas mereka tidak mudah terendus petugas.

“Ini bukan gerakan spontan. Dugaan saya ada pola dan jaringan yang sudah paham medan hutan, tahu jalur keluar masuk, tahu kapan petugas lengah. Bahkan grandong yang dipakai sehari-hari mengangkut kayu resmi diduga dimanfaatkan untuk membawa kayu ilegal supaya tidak menimbulkan kecurigaan,” katanya.

Uny juga menyoroti keberanian para terduga pelaku yang disebut masih berani masuk kawasan hutan meski aktivitas tebangan resmi sudah selesai. Ia menyebut kondisi itu membuat masyarakat sekitar merasa resah.

“Yang membuat miris, informasi dari warga mereka diduga sering kembali masuk hutan setelah jam kerja. Kalau benar itu dilakukan terus-menerus, berarti ada keberanian karena merasa jalurnya aman,” tegasnya.

Menurut Uny, kayu jati bukan komoditas biasa. Nilai ekonominya yang tinggi membuat praktik pencurian kayu kerap melibatkan jaringan yang kuat dan sulit disentuh bila tidak ditindak serius.

Ia meminta aparat penegak hukum dan pihak Perhutani mengusut tuntas dugaan jaringan penjarahan kayu tersebut hingga ke akar-akarnya.

“Kalau dibiarkan, hutan bisa habis pelan-pelan. Jangan sampai Banyuwangi punya cerita kelam tentang mafia kayu jati ilegal yang merusak alam demi keuntungan pribadi,” pungkasnya.(Ron/B5)

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait