beritalima.com

Desa Bone Ditetapkan Sebagai Desa Model Pencegahan dan Penanggulangan Stunting

  • Whatsapp

KUPANG, beritalima.com – Desa Bone, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur ditetapkan sebagai desa model pencegahan dan penanggulangan stunting.

Hal itu disepakati dalam Forum Diskusi Penggalangan Komitmen Pemangku Kepentingan dalam Pencegahan dan Penanganan Stunting Provinsi Nusa Tenggara Timur yang dihadiri Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, Ketua PKK NTT, Julie Laiskodat, pimpinan lembaga agama, perwakilan pimpinan Perguruan Tinggi, pimpinan Perbankan dan Dunia Usaha yang berlangsung di Sasando Hotel, Senin (16/9).

“ Ya desa model itu adalah desa yang ditetapkan yang mempunyai ciri – ciri penanggulangan stunting secara konfergensi, terintegrasi yang dikeroyok oleh seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), LSM, maupun dari lembaga – lembaga keagamana, Perguruan Tinggi, termasuk organisasi PKK, dan organisasi lainnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, drg. Dominikus Minggu Mere.

Berkaitan dengan itu, kata Dominikus, forum komitmen kerjasama harus tahu analisis situasi di desa itu, baik penduduknya, angka kemiskinannya, termasuk data – data kependudukan, ibu hamil, anak dibawa dua tahun, dibawah lima tahun, anak SD hingga SMA yang ada di desa tersebut.

“ Kita juga harus tahu tentang kondisi sosial ekonomi, mata pencahariannya. Misalnya, petani yang punya ladang, sawah, semua data – data dasar menjadi pegangan kita untuk melakukan intervensi nantinya, termasuk juga keberdaan infrastruktur, rumah layak huni, jalan di desa, jamban, air bersih, dan sanitasi. Setalah kita punya data dasar, baru kita mulai merumuskan intervensi yang dilakukan secara terintegrasi. Nanti masing – masing OPD mengambil peran sesuai dengan kapasitasnya,” kata dia menambahkan.

Terkait dengan program ini, jelas Dominikus, Dinas Kesehatan Provinsi NTT akan melakukan intervensi di aksi konfergensi berkaitan dengan pengananna gizi spesifik dan gizi sensitifd dari aspek suplay maupun dimannya, termasuk penyediaan tablet tambah darah.

Kemudian pelaksanaan promosi kesehatan, aksi penggunaan ASI eksklufif, pemberian makanan tambahan (PMT) untuk ibu hamil kurang energi kronis, anak balita maupun dibawah dua tahun, penanggulangan masalah kecacingan, termasuk penyakit menular dan lain – lain.

Sementara Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi dalam arahannya mengatakan, pencegahan dan penanganan stunting di NTT harus melibatkan semua stakeholder, baik tokoh agama, tokoh adat, dan LSM.

“ Khusus untuk permasalahan stunting, ada uang langsung eksekusi ke masyarakat. Jangan habiskan waktu lagi dengan rapat atau seminar. Kalau data stunting sudah ada langsung ditangani. Misalnya masalah gizi ditangani dinas kesehatan, masalah rumah atau jalan ditangani dinas PUPR,” kata Josef Nae Soi.

Dalam forum diskusi tersebut, dilakukan penandatanganan Form Komitmen Kerjasama pemerintah provinsi NTT, lembaga agama, perbankan, perguruan tinggi, lembaga non pemerintah & pengusaha dalam penanganan masalah kemiskinan dan stunting, peningkatan layanan dasar, pendidikan dan kesehatan, serta pengembangan pariwisata berbasis desa oleh Wagil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, Ketua TP PKK NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, pimpinan lembaga agama, pimpinan dinas terkait, LSM, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. (L. Ng. Mbuhang)

beritalima.com beritalima.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *