Jakarta, beritalima.com|- Wakil Ketua DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu Hemas soroti pentingnya penguatan ekonomi desa berbasis pertanian dan ketahanan pangan agar tak tergantung dari kebijakan negara.
Dalam kegiatan reses Sapa Aruh dan penyerapan aspirasi masyarakat di Kalurahan Terong, Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY (7/5), Hemas menilai desa tak bisa terus bergantung pada bantuan negara. Menurutnya, penguatan sektor pangan rumah tangga dan UMKM lokal menjadi jalan strategis menjaga ketahanan ekonomi masyarakat.
Didampingi Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, jajaran OPD DIY dan Kabupaten Bantul, Forkopimcam Dlingo, Pemerintah Kalurahan Terong, kelompok tani, pelaku UMKM, Karang Taruna, hingga kelompok seni budaya, Hemas membuka ruang dialog untuk menyerap aspirasi rakyat.
Hemas secara khusus singgung potensi ketela dan industri olahan singkong di wilayah Dlingo karena belum maksimal, padahal produk tersebut bernilai ekonomi tinggi.
“Ketahanan pangan itu penting. Nek ibune iso nandur opo sing dipangan, masyarakat tidak tergantung kepada negara lagi. Tadi saya tanya sekarang potensinya apa, ternyata keripik singkong. Harus ada nilai ekonominya untuk dijual,” ujar Hemas.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik halus terhadap pola pembangunan desa yang selama ini dinilai masih bertumpu pada bantuan program, bukan pada penguatan kapasitas produksi masyarakat.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menerangkan, daerahnya alokasikan anggaran desa melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Padukuhan (P2BMP). Dalam program tersebut, setiap padukuhan memperoleh alokasi dana sebesar Rp50 juta.
Tak hanya itu, Pemkab Bantul mengklaim terus memperkuat infrastruktur pedesaan dengan meningkatkan status jalan desa menjadi jalan kabupaten sepanjang 600 kilometer agar penanganannya lebih optimal.
“Di Bantul sejak empat tahun lalu kami menyediakan anggaran yang disebut P2BMP, Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Padukuhan, di mana setiap padukuhan dialokasikan Rp50 juta,” jelas Abdul Halim.
Namun di lapangan, kebutuhan pembangunan desa masih cukup besar. Lurah Terong Sugiyono mengungkapkan, wilayahnya memiliki potensi besar di sektor pertanian pangan, UMKM, hingga integrated farming. Tapi masih membutuhkan dukungan fasilitas dan pengembangan serius agar mampu berkembang menjadi pusat edukasi, wisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Potensi Kalurahan Terong dari segi geografis yaitu pertanian pangan seperti padi dan palawija ketela. Kemudian potensi UMKM berupa mebeler, anyaman bambu, dan integrated farming yang dikelola masyarakat untuk pertanian, perikanan, peternakan, hidroponik, serta KWT. Kami mohon pengembangan lebih lanjut karena masih belum sempurna,” papar Sugiyono.
Dalam sesi dialog, masyarakat juga menyampaikan berbagai aspirasi mulai dari pengembangan sanggar budaya, pembangunan fasilitas kawasan Sendang Surosetiko, pengembangan kawasan olahraga dan wisata terpadu, hingga perbaikan jalan kabupaten yang dinilai masih perlu perhatian.
Menanggapinya, Hemas menyatakan dukungannya terhadap pengembangan wisata berbasis potensi lokal dan pelestarian budaya masyarakat desa. Bahkan, ia turut merespons kebutuhan kelompok seni berupa bantuan alat hadroh.
Jurnalis: rendy/abri





