Jaga Tali Persaudaraan, FKPAI Gelar Sholat Qiyamul Lail

oleh -9 views

SURABAYA, beritalima.com- Untuk menjalin tali persaudaraan umat muslim, Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Surabaya, Jawa Timur, melaksanakan sholat qiyamul lail dan sholat subuh serta tausiyah, Senin 11 November 2019.

Kegiatan ini diikuti seluruh penyuluh Agama Islam PNS dan Non PNS Kemenag di Masjid At-Taqwa HR Muhammad Kota Surabaya, dan dibuka oleh Dr. Aw. Evendi M.Ag.

Menurutnya, ada dua makna penyuluh yang berasal dari kata Penyu dan Suluh. “Penyu itu wataknya tidak mau keluar kalau ada orang, tetapi kalau dia ingin keluar maka akan keluar kata-katanya. Apalagi ini zaman media sosial dan banyak kata-kata yang provokatif dan tidak perlu ditiru. Sedangkan Suluh adalah Penguluh yang mau mengajak umat untuk kebaikan, menyuluh masyarakat mulai dari diri sendiri, keluarga dan selanjutnya masyarakat umum,” terangnya.


Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan melakukan Sholat Qiyamul Lail yaitu Sholat Tahajud dan Sholat Hajat yang dipimpin oleh Ust. H. Heri Siswanto, LC. Penyuluh Non PNS dari KUA Benowo tersebut berjalan dengan sangat khusyuk dan khidmat.

Selanjutnya, para penyuluh dan jama’ah melakukan kegiatan sahur bersama untuk niat puasa Yaumul Biidl atau Puasa 15 Robiul Awal. Atmosfer dalam momentum tersebut terasa begitu hangat dan syahdu. Rasa kekeluargaan antar jama’ah terlihat begitu dekat. Hal tersebut mampu menjadi daya tarik tersendiri, mengingat bahwa Islam mengajarkan kepada umatnya untuk saling menjaga ukhuwah dan ikatan persaudaraan sesama umat Muslim.

Selepas kegiatan sahur bersama, para penyuluh dan jama’ah melakukan Sholat Subuh berjama’ah yang dipimpin oleh Imam Rowatib dan dilanjutkan dengan Tausiyah Subuh. Tausiyah Subuh yang kembali disampaikan oleh Dr. Aw. Evendi M.Ag dan Dr. H. M. Amir Sholihuddin selaku Kabid Penaiszawa Kanwil Kemenag Jatim. Ia berbicara tentang kesabaran.

Dalam isi tausiyahnya, ia berujar bahwa ada tiga rukun sabar yang harus dipenuhi oleh umat Muslim agar nantinya dapat disebut sebagai orang yang mampu menerapkan kesabaran dengan tepat. Yang pertama adalah menahan hati untuk tidak merasa marah terhadap ketentuan Allah, menahan lisan untuk tidak mengadu domba antar sesama maupun mengeluh saat tertimpa musibah, serta mampu menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan hal yang tidak dibenarkan ketika menghadapi kesulitan, seperti menampar pipi, merobek baju dan lain sebagainya yang berkaitan dengan melukai serta merugikan diri sendiri. Jika rukun kesabaran tersebut mampu diterapkan dengan benar dan ikhlas, maka cobaan yang diberikan oleh Allah akan berubah menjadi sebuah kenikmatan.

“Jadi, rumusnya adalah ketika kita diberi kesenangan harus tetap bersyukur. Begitu pula bila kita sedih atau ditimpa kesusahan, kita harus bersabar. Bila hal tersebut sudah dilakukan, maka dalam setiap keadaan kita pasti akan merasa ridho terhadap ketentuan Allah SWT.” tuturnya.

Salah satu panitia kegiatan Dr. Moh. Mukhrojin, M.Si mengatakan, acara ini di selenggarakan oleh Penyuluh Agama Islam Non PNS Kota Surabaya, dan dihadiri lebih dari 130 Penyuluh. Hadir pula Kepala Bimas Islam Kemenag Kota Surabaya Drs. Husni, M.Si dan Ketua Pokjaluh Drs. Khudlori. (Red).