Kapolres Isi Kuliah Umum di Stikes Banyuwangi

oleh -24 views

BANYUWANGI beritalima.com – Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama menjadi tamu kehormatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Banyuwangi, Sabtu (30/4/2016) pagi. Petinggi kepolisian di ujung timur Pulau Jawa ini didaulat memberikan “Kuliah Umum Nasional” bagi para mahasiswa serta akademisi.AKBP Bastoni Purnama memang tidak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan masyarakat maupun kedokteran. Kiprah perwira menengah asal Lampung yang terus gencar menggerakkan perlawanan terhadap bahaya teroris dan radikalisme selama bertugas di Banyuwangi dinilai patut mendapat apresiasi.

Itu sebabnya kalangan Rektorat Stikes Banyuwangi menunjuknya untuk memberikan kuliah umum tentang radikalisme. Kuliah umum itu bertajuk “Membentengi Generasi Muda dari Pemikiran Radikalisme dan Terorisme” di Kampus Stikes di Jalan Letkol Istiqlah.


Di hadapan peserta kuliah umum, Kapolres Bastoni mengingatkan rentannya kalangan muda dari pengaruh pemikiran radikal. Pemahaman agama yang kurang matang memudahkan para pelaku radikal menyusupkan pola pikirnya pada kalangan mahasiswa.

“Kekritisan mahasiswa itu yang dimanfaatkan. Biasanya dengan menyelipkan penggalan ayat atau hadist. Apabila tidak jeli mahasiswa akan mudah terprovokasi, lalu bergabung dalam lingkaran mereka,” tukasnya.

Membentengi pikiran ekstrim kalangan radikal itulah yang selama ini dijalankan Polres Banyuwangi dengan keluar masuk kampus maupun sekolah tingkat atas untuk memberi pemahaman tentang bahaya radikalisme. Pemahaman itu penting agar para pelajar dan mahasiswa tidak berpikir haluan kiri.

“Negara kita menganut Pancasila yang menghormati ras, suku dan agama yang telah ditetapkan undang-undang. Hidup bertoleransi dan saling menghormati merupakan cara terbaik mengatasi gejolak SARA,” tukasnya.

Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur yang penduduknya terdiri dari beberapa suku. Ada penduduk asli, Suku Using dan suku lain semisal Madura, Jawa Mataraman serta Bugis. Untung saja empat suku yang mendiami Tanah Gandrung ini bisa hidup rukun dan tidak mudah dimasuki paham radikal.(Abi)