Video Mahasiswi Asal Kaltara Disekap, Senator Larasati: Prioritas Perlindungan Korban

  • Whatsapp
Video mahasiswi asal Kaltara disekap, Senator Larasati: Prioritas perlindungan korban (foto: dok pribadi)

Jakarta, beritalima.com|- Kasus dugaan penyekapan dan kekerasan seksual seorang mahasiswi asal Kalimantan Utara (Kaltara) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mengundang perhatian Senator DPD/MPR Larasati Moriska agar diprioritaskan perlindungan korban.

Peristiwa keji ini terjadi di sebuah perumahan mewah, Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar (13/5), terlihat dalam rekaman video suasana mencekam tersebar luas di media sosial. Video tersebut memicu simpati publik sekaligus kecaman terhadap dugaan tindak kekerasan yang dialami korban.

Larasati mendesak agar penanganan kasus tidak berhenti pada viralnya peristiwa di ruang digital. “Yang paling penting sekarang keselamatan korban terlebih dahulu, pendampingan hukum dan psikologis harus segera diberikan agar korban merasa terlindungi,” ujar Larasati saat dimintai tanggapannya kepada beritalima (15/5).

Menurut Larasati, korban tidak hanya menghadapi trauma akibat dugaan kekerasan yang dialami, tapi juga tekanan sosial setelah identitas dan potongan peristiwa tersebar luas di media sosial. Situasi ini dinilai dapat memperburuk kondisi mental korban apabila tidak direspons secara cepat dan sensitif oleh aparat maupun lembaga terkait.

Ia mengingatkan perhatian publik, agar tak semestinya menjadi konsumsi digital yang justru melukai korban untuk kedua kalinya. Penyebaran informasi yang belum terverifikasi, spekulasi liar, hingga penghakiman di media sosial berpotensi mengaburkan substansi utama kasus, yakni perlindungan terhadap korban dan penegakan hukum yang adil.

“Publik perlu lebih bijak menggunakan media sosial. Jangan sampai empati berubah menjadi tekanan tambahan bagi korban dan keluarganya,” katanya.

Kasus ini juga dipandang sebagai alarm keras bagi lingkungan kampus dan masyarakat mengenai pentingnya sistem perlindungan terhadap perempuan, terutama mahasiswa perantauan yang hidup jauh dari keluarga. Minimnya ruang aman dan lemahnya mekanisme pelaporan kerap membuat korban berada dalam posisi tertekan dan takut mencari bantuan.

Larasati turut mengingatkan mahasiswa agar lebih waspada terhadap lingkungan pergaulan dan tidak ragu meminta pertolongan ketika menghadapi situasi yang mengancam keselamatan diri.

Sementara itu, publik kini menanti langkah aparat penegak hukum dalam mengusut kasus tersebut secara tepat, cepat dan transparan.

Jurnalis: rendy/abri

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait