Aliansi Mahasiswa Aceh Sebut, Pemerintah Pusat Rezim Panik

  • Whatsapp

ACEH, Beritalima-Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (USD) kembali terjadi,hal tersebut disampaikan, Koordinator aksi Rahmat Habibi saat melakukan Unjuk Rasa di Provinsi Aceh, Rabu, 12 September 2018.

‘’Bahkan yang sangat miris mencapai angka Rp. 14.885 per dollar (per 7 september 2018 pukul 22:00) dan sepertinya masih stagnant sehingga tidak terlihat adanya perbaikan.

Fenomena lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar ini tentunya dapat menyisihkan opini negatif tersendiri di ruang publik baik media sosial maupun media publik lainnya tentang apa yang sebenarnya terjadi sehingga nilai tukar rupiah terhadap dollar ini terus terpuruk.

‘’Salah satu efek yang telah timbul karena rupiah terpuruk adalah cadangan defisit negara juga ikut terus menurun, alhasil defisit transaksi berjalan pun meningkat. Kejadian ini sangatlah disayangkan jika harus dibiarkan begitu saja tanpa ada obat yang ampuh untuk penyakit ini.

Pemerintah kerap mengeluarkan data bahwa per juli 2018 tingkat inflasi Indonesia hanya 3,18 persen jauh lebih baik dengan Argentina dan Turki yang sedang krisis moneter dengan tingkat inflasinya 31,20 persen untuk Argentina dan 15,85 persen untuk turki. Pertanyaannya, apakah Indonesia harus menunggu krisis moneter juga baru mencari obat untuk penyakit ini.

‘’Efek lain yang tidak kalah merugikan negara adalah, ketika dollar melambung tinggi maka akan menarik minat investor-investor yang sebelumnya masuk ke Indonesia kembali ke tanah paman sam untuk bersaing meraup keuntungan yang lebih besar dengan memanfaatkan tingginya nilai tukar dollar ini.

www.beritalima.com

Tidak ada yang pernah menyangkal bahwa dollar tinggi itu mengungtungkan kita ketika mengekspor barang keluar, karena transaksinya akan dilakukan dengan mata uang dollar. Akan tetapi pernyataan itu berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia yang tingkat ekspor kita jauh dibawah jika dibandingkan dengan impor sehingga tingginya nilai tukar dollar terhadap rupiah itu bukanlah hal yang menguntungkan.

Meningkatkan ekspor, meminimalkan impor, mengurangi defisit transaksi berjalan, dan menjemput investor kembali ke Indonesia adalah hal yang sepatutnya saat ini dapat kita perhatikan untuk diprioritaskan sehingga nilai tukar dollar terhadap rupiah kembali normal dan stabil, tidak seperti saat ini yang tingkat kenaikannya mencapai angka 10 persen,’’(A79)

www.beritalima.com
www.beritalima.com
www.beritalima.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *