Aksi Musik Can Band Buktikan Sahabat Difabel Mampu Bersaing dengan Lainnya

  • Whatsapp
Aksi Musik Can Band buktikan sahabat Difabel mampu bersaing dengan lainnya (foto: solidernews))

Jakarta, beritalima.com|- Aksi grup musik dari sahabat disabilitas, Can Band, mencuri perhatian masyarakat umum karena bisa bersaing dengan lainnya yang tidak berkebutuhan khusus.

Ini sebagai bukti, di negeri yang gemar bicara soal inklusi, sering kali panggung justru masih memilih siapa yang layak terlihat. Kata “setara” ramai di seminar, tetapi sunyi dalam praktik. Maka ketika lampu Balai Budaya Giri Nata Mandala menyala pada Kamis, 23 April 2026, ada satu penampilan yang lebih dari sekadar musik: itu adalah pernyataan.

Di tengah belasan grup dari berbagai daerah, hadir Can Band, grup musik difabel netra asal Bangli, Bali. Mereka bukan sekadar peserta. Mereka adalah satu-satunya kelompok disabilitas yang tampil dalam kompetisi nasional Lomba Aransemen Medley Lagu Nusantara digelar Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung.

Mereka tidak datang untuk dikasihani. Mereka datang untuk bersaing. Hasilnya, Can Band raih Juara Harapan 2 kategori umum. Sebuah prestasi yang mungkin oleh sebagian orang dianggap “biasa saja”. Namun bagi siapa pun yang memahami medan perjuangan difabel di Indonesia, capaian ini jauh dari biasa. Karena yang mereka kalahkan bukan hanya peserta lain.

Selama ini, banyak ruang publik masih memandang penyandang disabilitas sebatas objek simpati. Diundang saat acara seremonial, dipuji karena “menginspirasi”, lalu dilupakan ketika bicara akses, kesempatan, dan kompetisi nyata. Nah, Can Band membalik logika itu.

Mereka tampil bukan dengan narasi belas kasihan, melainkan dengan kualitas, membawakan medley tiga lagu daerah lintas pulau: Don Dapdape dari Bali, Manuk Dadali dari Jawa Barat, dan Yamko Rambe Yamko dari Papua.

Sebuah pilihan musikal yang cerdas—merangkum Indonesia dalam harmoni. Aransemen mereka memadukan instrumen modern dengan nuansa tradisional Bali, menghasilkan pertunjukan yang segar, berkarakter, dan kuat secara artistik.

Rivan, salah satu personel Can Band, menyampaikan, capaian ini penting bukan sekadar karena posisi juara, tapi karena bisa hadir di ruang yang selama ini jarang diisi musisi difabel. Pernyataan itu terdengar sederhana, namun menyimpan kritik tajam: jika satu grup difabel saja masih menjadi pengecualian di panggung nasional, berarti sistem kita belum benar-benar inklusif.

Pertanyaannya, mengapa masih sedikit?Apakah talenta difabel tidak ada? Ataukah akses latihan, pendidikan seni, transportasi, informasi lomba, dan keberanian penyelenggara yang masih minim?

Kita harus jujur: masalah utamanya bukan kemampuan, tetapi kesempatan. Can Band telah membuktikan ketika ruang dibuka, prestasi akan datang sendiri. Mereka tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan panggung yang adil, fasilitas yang layak, dan penilaian yang objektif.

Sudah saatnya lembaga seni, pemerintah daerah, sekolah, kampus, dan event organizer berhenti menjadikan inklusi sebagai slogan tahunan.

Berikan jalur audisi terbuka, pendampingan teknis, aksesibilitas venue, serta promosi yang setara bagi kelompok difabel. Karena bakat tidak pernah memilih tubuh. Bakat hanya menunggu kesempatan.

Jurnalis; abdul hadi/abri

beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait