Soal Pak Wiranto, Kita Mesti Gimana?

  • Whatsapp
www.beritalima.com

Oleh: Hariqo

“Remember that everything you post online is permanent”

Begitu mendengar Pak Wiranto ditusuk, atau peristiwa teror lainnya, di antara kita terbiasa langsung menuduh lewat medsos, bahwa ini ulah kelompok radikal dari agama tertentu. Ada juga yang menuduh ini rekayasa, settingan.

Langsung menuduh, bisa jadi karena si penuduh punya ketidaksukaan, kebencian, bahkan phobia pada seseorang, suku, agama, ras, golongan tertentu, atau sekadar spekulasi agar terlihat beda, hebat, pakar, dll.

Kita berharap jangan terjadi, namun jika pelaku teror kembali berulah, bagaimana sikap kita sebagai pengguna media sosial?

www.beritalima.com
www.beritalima.com

Pertama, tunda menyampaikan kesimpulan di medsos, apalagi langsung menuduh ini ulah kelompok radikal dari suku, agama, ras, golongan tertentu, ini settingan, rekayasa, dan tuduhan lain. Sebab tuduhan langsung tanpa mikir panjang itu melahirkan ketersinggungan, membuat antar kita, antar agama, antar suku, antar golongan, antar ormas saling tersudut dan tidak percaya.

www.beritalima.com
www.beritalima.com

Kedua, bebaskan diri dari berbagai kepentingan lain, fokus pada kepentingan bersama (national interest). Jika Anda intelektual, pengamat, tolak siapapun yang mendorong Anda untuk berkomentar sesuai pesanan mereka.

www.beritalima.com
www.beritalima.com

Ketiga, hindari penggunaan emoticon, emoji, gif dalam merespon peristiwa teror, bencana alam, kematian dan musibah lainnya. Perkuat empati digital.

www.beritalima.com
www.beritalima.com

Keempat, jangan mensyukuri kematian seseorang lewat medsos. Karena boleh jadi Anda tidak suka banget dengan orang tersebut. Namun Anda tetap harus menjaga perasaan kedua orangtuanya, saudara kandungnya dan keluarga besarnya.

www.beritalima.com

Kelima, jangan memproduksi konten yang bisa memanaskan situasi, dan jangan menyebarkan konten tak bertuan.

Keenam, jangan menyebarkan konten, sebelum konten tersebut diberitakan oleh media arus utama yang memiliki verifikasi ketat, atau berkonsultasilah dengan tiga orang yang memiliki verifikasi ketat sebelum menyebar konten.

“Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan konten”

*Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten, Penulis Buku Seni Mengelola Tim Media Sosial #SMTMedsos. Depok, Minggu 13 Oktober 2019

www.beritalima.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *